info terkini

loading...

INVESTASI CLOSED HOUSE IKUT KEMITRAAN BROILER.



Read More »

0 komentar:

DAUN SIRIH




Read More »

0 komentar:

FEED INTAKE SEDIKIT TAPI CUKUP



Read More »

0 komentar:

KONTROL pH RUMEN, KONTROL PERFORMANS PRODUKSI TERNAK



Read More »

0 komentar:

MEMULAI KEGIATAN PAGI



Read More »

0 komentar:

CIRI-CIRI BAKALAN SAPI POTONG BERKUALITAS



Read More »

0 komentar:

KKN KE 29


0 komentar:

vidio inseminasi




Read More »

0 komentar:

ENZYME



Read More »

0 komentar:

VAKSIN DAN PRINSIP DASAR VAKSINASI PADA HEWAN

Gambar Pertimbangan Pemberian Vaksin

Vaksinasi atau disebut juga dengan IMUNISASI adalah pemberian vaksin ke dalam tubuh hewan untuk memberikan kekebalan terhadap suatu penyakit. Vaksinasi juga merupakan salah satu upaya untuk mencegah hewan terhadap infeksi suatu penyakit.

Fungsi vaksin tidak bisa digantikan oleh peran bahan-bahan lain termasuk herbal, probiotika dan enzyme Adapun pengertian vaksin yaitu suatu bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif pada tubuh hewan terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh suatu mikroorganisme.

 Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan suatu hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu (bakteri, virus atau toksin). Vaksin juga dapat membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker). Vaksin dapat dibedakan menjadi dua yaitu: vaksin aktif (live vaccine) dan vaksin inaktif (killed vaccine).



VAKSIN AKTIF (LIVE VACCINE)Vaksin yang berisi mikroorganisme agen penyakit (virus atau bakteri) dalam keadaan hidup tetapi sudah dilemahkan. Vaksin aktif hanya mengandung relatif kecil antigen. Antigen yang masih hidup tersebut diharapkan mampu memperbanyak diri di dalam tubuh hewan yang divaksin hingga dapat merangsang sistem kekebalan tubuh hewan tersebut.Vaksin aktif memiliki keuntungan dan kerugian yaitu sebagai berikut:a. Keuntungan vaksin aktif :

• Menghasilkan kekebalan sistemik dengan cepat, walau pun titer antibodinya tidak tinggi dan daya proteksinya relatif singkat;

• Meng-induksi titer antibodi sistemik umumnya lebih rendah dan lebih singkat dibandingkan vaksin inaktif.

• Merangsang pembentukan sistem imun secara luas termasuk respon sel T dan respon mukosa IgA;b. Kerugian vaksin aktif:

• Virus vaksin bisa berubah menjadi virulen atau patogen;

• Tidak dapat dilakukan pada hewan yang masih memiliki antibodi maternal (diperoleh saat hewan masih di dalam kandungan induknya atau melalui kolostrum susu dari induk);

• Vaksin aktif harus disimpan pada suhu rendah yaitu 4 - 8° C untuk menjaga potensi vaksin.

• Kesalahan dalam menyimpan atau memindahkan tempat dapat membunuh mikroorganisme hidup pada vaksin.

• Perubahan suhu yang terlalu mendadak dan tinggi, sinar matahari dan ultraviolet, atau radiasi juga dapat mematikan mikroorganisme hidup (virus atau bakteri) dalam vaksin serta dapat menurunkan potensi vaksin;

• Lebih reaktogenik;VAKSIN IN-AKTIF (KILLED)Vaksin yang berisi mikroorganisme agen penyakit dalam keadaan mati (dimatikan) atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Biasanya vaksin inaktif di dalamnya dicampurkan atau ditambahkan oil adjuvant untuk perpanjangan immunitas dan mengurangi jumlah mikroorganisme yang digunakan. Ajuvant yang digunakan dapat berupa aluminium hidroksida, aluminium fosfat untuk mengadsorpsi antigen pelarut atau lanolin untuk meng-emulsikan antigen, maupun β-propiolakton.a. Keuntungan vaksin inaktif:

• Aman karena tidak ada resiko jadi virulen atau patogen;

• Mudah diproduksi dan disimpan;

• Toleransi lebih baik;b. Kerugian vaksin inaktif :

• Memerlukan penggunaan berulang (booster) untuk mempertahankan proteksi;

• Rangsangan imunitas seluler dan mukosa, kurang;

• Pada keadaan tertentu dapat menimbulkan penyakit karena imbalans respon imun.Prinsip dasar dari vaksinasi yaitu untuk menginduksi respon imun spesifik hewan terhadap agen infeksi tertentu. Vaksin dapat melindungi tubuh hewan terhadap agen infeksi yang patogen secara primer dengan membentuk antibodi dan secara sekunder dengan membentuk sistem cellular mediated immunity (CMI) serta mendorong pembentukan antibodi lokal. 

Antibodi yang dibentuk tubuh bersifat spesifik, artinya satu jenis antibodi hanya mengenal satu macam agen infeksius (bakteri/virus tertentu) yang telah dikenali oleh tubuh melalui vaksinasi.Sistem kekebalan akan mengenali partikel vaksin sebagai agen asing, kemudian menghancurkannya dan mengingatnya. 



Ketika pada kemudian hari agen yang virulen menginfeksi tubuh, sistem kekebalan telah siap dengan mekanisme sebagai berikut:

1. Menetralkan bahannya sebelum memasuki sel;

2. Mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi sebelum agen ini dapat berkembang biak;

3. Jika tetap sakit, maka sakitnya akan jauh lebih ringan;Apabila kemampuan sel-sel imun tidak sebanding dengan agen penyakit yang menyerang, maka hewan akan terjangkit penyakit dan ditandai dengan munculnya gejala klinis. Pada kondisi ini, vaksinasi justru tidak dapat dilakukan karena dapat menambah beban kerja sel-sel imun untuk menangkis agen penyakit yang masuk ke dalam tubuh.


Terdapat berbagai macam faktor yang dapat berperan dalam penentuan keberhasilan suatu program vaksinasi.Faktor-faktor tersebut meliputi :

1. Peran AntibodiAntibodi maternal merupakan antibodi yang dimiliki anak hewan berasal dari perolehan saat fetus dalam kandungan atau melalui kolostrum pada susu induk atau melalui kuning telur pada hewan yang bertelur. Berdasarkan anatomi plasenta yang dimiliki kucing menunjukkan bahwa, 95% immunoglobulin telah diwariskan pada anak dibandingkan 100% yang dimiliki oleh induk.

 Dengan demikian, anak kucing yang lahir dengan tidak mendapat kolostrum masih dapat bertahan terhadap infeksi dalam beberapa waktu, mengingat bahwa anak kucing mengandung 95% immunoglobulin. 

Bila immunitas yang diterima dalam kandungan dan ditambah dengan immunitas yang diperoleh melalui kolostrum, maka anak yang dilahirkan tersebut dalam beberapa hari memiliki maternal immunity. Sistem immunitas yang terbentuk seperti di atas disebut juga immunitas pasif. 

Immunitas yang berbentuk immunoglobulin tersebut mampu bertahan 14 – 16 minggu pada kucing. Pada beberapa minggu terakhir dari waktu tersebut, jumlah antibodi maternal sudah sangat rendah sehingga anak kucing rentan terhadap infeksi. Antibodi maternal akan mengalami penurunan karena pertambahan berat badan dari anak hewan.

Pada unggas, maternal antibodi bisa melindungi atau memproteksi anaknya terhadap berbagai serangan penyakit selama 21 hari bila kuning telur bisa diserap dengan sempurna.Untuk memberikan proteksi terhadap anak unggas setelah 21 hari dan seterusnya, diperlukan program vaksinasi terhadap beberapa penyakit yang potensial menyerang anak ayam.

2. Jenis VaksinJenis vaksin dapat dibagi menjadi vaksin aktif dan vaksin inaktif. Kedua jenis vaksin ini memiliki keguntungan dan kerugian seperti yang telah dijelaskan di atas. Vaksin in-aktif mampu menghasilkan kekebalan yang lebih tinggi titernya dan daya proteksinya lebih lama, sedangkan vaksin aktif rangsangan imunitas seluler dan mukosa, tetapi kekebalannya lebih rendah dan lebih singkat.

3. Aplikasi VaksinasiEfektifitas vaksin 85% ditentukan oleh ketepatan aplikasinya. Kegagalan vaksinasi dapat terjadi terutama karena cara pemberian vaksin yang tidak mengikuti petunjuk penggunaannya.

Aplikasi vaksin dapat dilakukan dengan berbagai macam cara yaitu secara :> intra muskular (IM);> sub kutan (SC);> oral (tetes mulut, air minum);> diteteskan pada mukosa mata;> diteteskan ke lubang hidung (intra nasal);> intra telur;> wing web;> spray.Sebagai contoh, vaksin campak (measles vaccine) harus diinjeksikan secara intra muskular (IM). 

Vaksin distemper, ICH, panleukopenia dapat disuntikkan secara IM atau pun subkutan (SC). Vaksin Newcastle Disease (ND) dan Infectious Bronchitis (IB) pada ayam dapat diberikan dengan cara diteteskan pada mata.


4. Umur HewanAnak hewan yang terlalu muda belum siap membentuk antibodi dengan baik. Apabila vaksinasi dilakukan pada anak hewan yang masih terlalu muda dapat mengakibatkan terjadinya kegagalan vaksinasi. 

Hal ini dipengaruhi juga karena anak hewan yang terlalu muda masih memiliki antibodi maternal. 

Sebagai contoh, pada kucing yang divaksinasi dengan vaksin live modified pada umur kurang dari 6 minggu dapat mengakibatkan blocking, sehingga anak kucing dengan mudah dapat terinfeksi agen infeksius dari lingkungan, atau oleh vaksin yang disuntikkan 2 – 3 minggu kemudian. Kucing tua yang berumur lebih dari 4 tahun sudah tidak begitu responsif terhadap pembentukkan antibodi mau pun CMI, sehingga perlu diberikan booster (vaksinasi ulang) tahunan. 

Banyak pemilik hewan yang menganggap hewan tua dan telah divaksin berulang-ulang dianggap sudah kebal sepenuhnya, sehingga vaksinasi terhadap kucing dianggap tidak penting lagi.


 Tentunya anggapan ini tidak benar.

5. Kondisi Kwsehatan Hewan Saat VaksinasiSebaiknya hewan divaksinasi pada saat hewan dalam kondisi sehat dan bebas dari infeksi parasit seperti cacing dan agen immuno-suppresive. 

Hindari untuk melakukan vaksinasi hewan apabila dalam keadaan demam, nafsu makan berkurang, mukosa hidung kering dan hewan yang kurus. Pada keadaan tersebut, vaksinasi harus ditunda sampai hewan benar-benar sehat.

Ingat, hanya vaksin yang bisa membuat hewan tumbuh kekebalan yang spesifik terhadap penyakit. Produk lain, vitamin, herbal dan probiotika, bisa membuat sehat, ya. Membuat kebal, tidak. Kalau ada yang meng-klaim probiotika dan atau herbal bisa membuat kebal, itu non-sense atau omong kosong yang menyesatkan.


 




0 komentar:

INSTALASI AIR MINUM PAKAI NIPPLE



Read More »

0 komentar:

STANDAR PERFORMANS LAYER MODERN



Read More »

0 komentar:

PENGENDALIAN HAMA TIKUS



Read More »

0 komentar:

PROGRAM PENCAHAYAAN PADA PULLET DAN LAYER


Read More »

0 komentar:

PAKAN KOMPLIT LAYER MASA PRODUKSI


Rekomendasi umum komposisi pakan komplit untuk layer produksi berlaku dari awal masa produksi sampai dengan afkir, sbb :

1. Konsentrat isi protein 36% dan ME 2.000 KCal/kg ---> 35%;


2. Jagung giling pecah 4 bagian ---> 55% (mengapa pecah 4?);

3. Katul dengan kadar serat kasar maksimum 10% ---> 7% 
(mengapa kadar serat kasar maksimum 10%?);

4. Minyak goreng sawit curah ---> 2% (mengapa perlu ditambah minyak goreng curah?);

5. Grit batu kapur diameter 2 - 4% ---> 1% (mengapa perlu ditambah grit?);

6. Premix multi vitamin High Concentrate (HC) ---> 250 gram/ton (mengapa perlu ditambah premix isi vitamin?);

7. Premix mikro mineral HC ---> 250 gram/ton (mengapa perlu ditambah premix isi mikro mineral?).


Total 100,0%.
Setelah jadi pakan komplit, seperti apa spesifikasinya? Silakan dihitung sendiri.

Komposisi tsb di atas, ibarat bahan bakar minyak (BBM), setara Pertamax RON-92. Feed intake cukup maksimum 115 gram/ekor/hari, gross. Bukan point feed.


semoga bermanfaat aaamiiin



0 komentar:

TEPUNG IKAN



Read More »

0 komentar:

CARA FERMENTASI TERTUTUP



Bahan baku yang difermentasi :


1. Katul 75 kg;

2. Polar 30 kg;
3. Air sumur (tanpa klorinasi) 34,8 liter;
4. Probiotika versi lengkap dan dosis super tinggi, merk ( cari sendiri di toko) Unggas 0,2 liter.
Total 140 liter.


Caranya :


1. Buat larutan probiotika no.3 dan 4 di atas di dalam wadah plastik, di aduk rata pakai dayung kayu atau plastik PVC;


2. Nyalakan mixer kapasitas efektif 200 kg;

3. Masukkan katul, semua;

4. Masukkan polar, semua;

5. Masukkan larutan probiotika dengan cara dikucurkan pelan-pelan, sampai habis. Tunggu 5 menit (mixing time);
6. Setelah diaduk selama 5 menit pakai mixer horisontal, sudah rata. Kemudian panen.

7. Masukkan ke dalam drum plastik kapasitas 150 liter secara bertahap. Setiap -/+ 20 cm, diinjak-injak sampai padat. Masukkan terus secara bertahap sampai penuh, rata permukaan drum. Kemudian ditutup dan dipasang ring menguncinya. Tempeli label tanggal pembuatan.

8. Disimpan dalam kondisi terbalik, penutup posisinya di bawah agar rapat dan kedap (an-aerob). Diperam selama minimum 4 minggu, supaya benar-benar matang. Semakin lama semakin baik. Bahkan bisa disimpan selama 24 bulan asal tetap kedap.

Apkikasinya :


Buatlah formula konsentrat atau pakan komplit tanpa antibiotic growth promotor (AGP) bagi yang sudah self mixing. Bagi yang belum self mixing, beli lah atau pesan lah konsentrat dari pabrik yang NON AGP.

Komposisi pakan layer produksi standar umum :


1. Konsentrat isi protein 36% dan ME 2.000 KCal/kg, non AGP ---> 35%;


2. Jagung kering (kadar air maksimum 14%), digiling pecah 4 bagian ---> 53%;

3. Minyak goreng sawit curah atau CPO dimasukkan ke dalam mixer setelah jagung giling dengan cara dikucurkan sampai habis ---> 2%;

4. Katul + polar fermentasi (mentah) ---> 5%;

5. Katul tanpa fermentasi ---> 3%;

6. Premix isi multi vitamin yang high concentrate (HC) 250 g/ton dan isi multi mikro mineral (HC) 250 g/ton. Volumenya diperbanyak dulu pakai katul atau polar menjadi 10 kg (0,25 + 0,25 + 9,50) = 1%;

7. Grit (butiran) batu kapur ukuran 2-4 mm ---> 1%;


Total 100%.




Hasilnya :


1. Setelah pemberian 4-7 hari, kotorannya menjadi tanpa bau (odorless);


2. Setelah 2-3 minggu produksi telur meningkat;

3. Setelah 2-3 kualitas telur membaik, telur retak, pecah dan telur kerabang putih, berkurang dan skor warna kerabang telur miningkat, semakin coklat;

4. Bebas CRD, Kokibasilosis, Salmonelosis dan Kolera;

5. Setelah 2-3 minggu, feed intake akan turun secara bertahap. Itu terjadi akibat peningkatan kemampuan mencerna pakan oleh saluran cerba (digestible booster).




0 komentar:

PEMBERIAN RANSUM PADA BROILER


Idealnya, pemberian ransum untuk ayam broiler didasarkan pada standar kebutuhan nutrisi setiap fase hidupnya :

1. Single Feedeing System (S.F.S), menggunakan 1 jenis ransum. Biaasanya yang dipakai ransum untuk starter dari awal sampai panen :
Starter :
> CP 21%;
> ME 3.100 KCal/kg.
> pasaran saat ini -/+ Rp 7.000,-/kg (Rp 333,33 tiap % protein).


2. Dual Feeding System (D.F.S), menggunakan ransum 2 jenis ransum, ransum starter dari umur 1 – 21 hari, kemudian dilanjut ransum finisher dari umur 22 – 35 hari/panen :

Starter :
> CP 21%;
> ME 3.100 KCal/kg;
> harganya Rp 7.000,-/kg.

Finisher :

> CP 18%;
> ME 3.200 KCal/kg;
> konversi harganya -/+ Rp 6.000,- (Rp 333,33 x CP 18%);


3. Triple Feeding System (T.F.S), menggunakan ransum pre-starter dari umur 1 – 10 hari, dilanjut ransum starter dari umur 11 – 21 hari dan kemudian finisher dari umur 22 – 35 hari/panen :

Pre-starter :
> CP 24%;
> ME 3.000 KCal/kg;
> konversi harganya -/+ Rp 8.000,-/kg (Rp 333,33 × CP 24%).

Starter :

> CP 21%;
> ME 3.100 KCal/kg;
> harganya Rp 7.000,-/kg.

Finisher :

> CP 18%;
> ME 3.200 KCal/kg;
> harganya Rp 6.000,-/kg.


Mana yang lebih efektif dan efesien ?, pasti teman-teman sudah tahu persis jawabannya.





0 komentar:

PAKAN UNGGAS



Read More »

0 komentar:

PENGENDALIAN ENDO DAN EKTO PARASIT


Untuk mengendalikan endo dan ekto parasit, sekali tembak 2 parasit terkendali, bisa menggunakan preparat Ivermectin Oral 10%.
Cara aplikasi yang efektif :
1. Obat oral ini akan efektif bila saluran pencernaan dalam keadaan kosong;2. Siapkan obat isi Ivermectin Oral 10% dengan dosis 1 ml/25 kg bobot badan. Pada layer masa produksi, dosisnya 1 ml/12 ekor, dikalikan jumlah ayam yang akan diobati;
3. Siapkan larutan obat ke dalam drum atau tandon air di kandang dimana jatah minumnya harus cukup untuk minum selama 1 jam setelah puasa minum dan pakan, -/+ 75 ml/ekor;
4. Ayam mesti dipuasakan minum dulu selama -/+ 1,5 jam, mulai pukul 12:00 waktu setempat, bersamaan dengan puasa makan siang 3 jam;
5. Setelah puasa minum dan makan sudah 1,5 jam, larutan obat diminumkan lewat talang PVC, biarkan diminum sampai habis;
6. Setelah larutan obat diminum habis, selanjutnya dikasih minum air biasa;
7. Kemudian, pada pukul 15:00 waktu setempat, berikan jatah pakannya 100% (bagi yang sudah menerapkan pemberian pakan 1 kali per hari);
8. Supaya tuntas, mesti sekalian dilakukan penyemprotan pakai insektisida Sipermetrin (golongan Permetrin). Dosisnya ikuti anjutan dari pabrik pembuatnya. Semprot pada malam hari ke seluruh dalam kandang dan lingkungan kandang karena gurem dan kutu adalah binatang nocturna (aktif pada malam hari);
9. Supaya tuntas, pengobatannya perlu diulang 10 hari kemudian dengan cara yang sama;
10. Pada hari ke-11, wajib diperiksa hasilnya, apakah endo parasit (cacing Capilaris sp/cacing crop, Ascaridia sp) dan ekto parasit (kutu dan gurem) sudah tidak ada;
11. Selanjutnya, jangan ambil resiko kena INFESTASI (istilah serangan parasit, kalau serangan virus dan bakteri, infeksi) endo dan ekto parasit, maka pengobatan tersebut diulang setiap bulan. Bersih.


CATATANMaaf, jangan tanya merk obat dan supplier-nya. Memang tidak melanggar hukum, tapi bagi saya tidak etis. Karena saya harus menjaga profesionalitas dan netralitas. Kecuali produk saya sendiri.


Gambar Parasit



0 komentar:

TRACE ELEMENT (TRACE MINERAL = MICRO MINERAL)


Read More »

0 komentar:

KUALITAS DAY OLD CHICK (D.O.C) YANG BAIK DAN BENAR



Read More »

0 komentar:

SUSUT JUMLAH AYAM PETELUR UMUR 19 S/D 80 MINGGU


Dalam suatu populasi ayam petelur (layer), selalu terjadi susut jumlahnya dari waktu ke waktu. Tetapi ada standarnya, mulai umur 19 – 80 minggu, maksimum 10% atau setara 0,20% per minggu.

Bila susut (deplesi) jumlah ayam lebih dari 10% seperiode, misal 15% atau lebih, bisa dipastikan performance produksi telur secara Hen House (H.H) sampai dengan umur 80 minggu, tidak bisa mencapai standar minimum, yaitu 340 butir telur atau 21 kg telur per ekor ayam.

JENIS SUSUT


1. MATI
1.1. Dengan berbagai sebab, baik yang bisa diketahui sebabnya mau pun yang tidak diketahui penyebabnya;


1.2. Semestinya jumlah ayam mati maksimum 1/3 bagian dari total susut jumlah ayam (1/3 dari total susut 10%);

1.3. Ayam mati WAJIB dimusnahkan supaya tidak menjadi sumber penularan penyakit;

1.4. Ayam mati DILARANG untuk diperdagangkan, HARAM secara agama (bangkai) dan pidana secara hukum positif negara (ayam TIREN = mati kemaren);

2. “CULLING”

2.1. Yaitu ayam yang harus dikeluarkan dari kelompoknya karena tidak produktif walau pun dari segi umur seharusnya masih produktif;


2.2. Sumbangsihnya maksimum 2/3 bagian dari total susut jumlah ayam (2/3 bagian dari 10% per periode);

2.3. Karena masih hidup, masih laku dijual bila bobot badannya 1,4-1,6 kg per ekor, dengan harga 50-70% dari harga layer afkir;

2.4. Yang perlu di-“culling” bisa mengikuti KRITERIA LAYER CULLING .


PENYEBAB

1. Kejepit lehernya (bahasa Jawa : kendhat), akibat salah konstruksi sangkar;


2. Heat stroke, pecah pembuluh darah organ (jantung, hati) akibat kepanasan;

3. Sakit karena non-penyakit, mal-nutrisi, lama-lama bisa jadi sakit akibat penyakit;

4. Sakit karena penyakit, yaitu infeksi oleh mikroba (virus, bakteri, jamur dll) : ND, AI, IB, Kolera (Fowl Cholera), Salomonelosis (tipus), Kolibasilosis, CRD Complex, Malaria Unggas (Leucocytozonosis), Endo (cacing) dan Ekto Parasit (kutu, gurem) dll;

5. Toksikosis (keracunan), bisa lewat air minum, lewat pakan mau pun lewat udara (uap insektisida organofosfat);

6. Human error yang berakibat ayam tidak minum lebih dari sehari;

7. Dimakan binatang lain : tikus, anjing, kucing garong, musang, biawak;

8. Penyakti “A.I” = ayam ilang, penyakit sosial, 85% disebabkan adanya kerja sama antara orang dalam (karyawan) dengan orang luar baik pelaku pencurian mau pun dengan penadah;

9. Salah hitung saat terima pullet dan saat audit (hitung bulanan dan atau seperiode).




LABORA ET ORA, yaitu :


1. Jalankan tata kelola dengan memenuhi standar GOOD CORPORATE GOVERNANCE (G.C.G). Seperti yang diajarkan oleh STANDAR MANAJEMEN ISO 9001-2000, tentang manajemen produksi. Setiap tahapan proses produksi, mesti mengikuti Standard Operation Procedure (S.O.P) yang baik dan benar. Bila tahapan atau prosesnya “asal-asalan”, biasanya hasilnya juga “asal-asalan”;


2. Saya percaya 90% bahwa hasil ditentukan oleh upaya/proses, yang 10% ditentukan oleh Tuhan. Kayaknya gak ada “ujug-ujug” sukses.



TEKNIK MENEKAN DEPLESI SERENDAH MUNGKIN


Bagaimana cara Anda melakukanya? 
Silakan bercerita dan saling tukar pengalaman masing-masing. Aku nyimak.




1 komentar:

LAYER MODERN


Read More »

0 komentar:

CACINGAN, PENGENDALIAN DAN PENGOBATANNYA



Read More »

0 komentar:

BROODING PERIOD” PADA 7 (TUJUH) HARI PERTAMA




Read More »

0 komentar:

PROFIL ASWANDI



Read More »

0 komentar:

PAKAN DAN PEMBERIAN PAKAN PADA TERNAK


Read More »

0 komentar:

MENYUSUN FORMULASI PAKAN


Read More »

0 komentar:

ISTILAH-ISTILAH PENTING BAHAN BAKU PAKAN DAN PAKAN LENGKAP




Read More »

0 komentar:

GESTURE






Read More »

0 komentar:

PROSES PRODUKSI PROBIOTIKA



Read More »

0 komentar:

ECENG GONDOK




Read More »

0 komentar:

INFO

loading...