info terkini

loading...

Faktor penyebab munculnya masalah penurunan produksi pada ayam petelur


Pertanyaan:

Saya peternak ayam layer. Kebetulan ayam saya sedang fase produksi. Namun terjadi penurunan produksi dan kematian, walaupun kematiannya kurang dari 5%. Saat dibedah, terdapat akumulasi lemak dalam jumlah besar di rongga perut dan meluas ke permukaan hati. Ukuran hati lebih besar dari ukuran normal, berwarna kekuningan dan rapuh. Selain itu, terdapat sedikit pendarahan di hati. Yang ingin saya tanyakan, dari gejala tersebut diperkirakan mengarah ke penyakit apa? Faktor apa yang menyebabkan munculnya penyakit tersebut? Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih.


Jawab:
Berdasarkan gejala yang Bapak sebutkan, diagnosanya mengarah Fatty Liver Hemorrhagic Syndrome (FLHS) yang merupakan suatu gangguan metabolik pada ayam layer dan dapat menimbulkan kematian dan penurunan produksi yang mendadak. Penyakit ini banyak ditemukan pada ayam layer di kandang baterai.

Sindrom tersebut disebabkan oleh obesitas dan perlemakan hati yang disertai perdarahan. Banyak faktor yang mempengaruhi kejadian FLHS pada ayam layer, diantaranya :
1.      Genetik
Perbedaan kepekaan terhadap FLHS bervariasi antar strain ayam. Ayam broiler lebih rentan terserang daripada layer. Tingkat produksi telur yang tinggi pada ayam layer modern merupakan salah satu faktor penyebab kejadian FLHS. Kemampuan bertelur yang tinggi merangsang terjadinya perlemakan hati yang disebabkan metabolisme estrogen secara intensif.

2.      Nutrisi
.
Kelebihan konsumsi energi pada ayam layer akan ditimbun dalam bentuk lemak di hati sebagai akibat peningkatan proses glukoneogenesis. Selain itu, perbandingan antara protein dan energi yang tidak seimbang juga dapat menjadi faktor predisposisi FLHS. Defisiensi kalsium menyebabkan masukan energi dan protein yang tinggi dan menstimulir kejadian FLHS. Defisiensi kalsium menyebabkan pula haemoragi pada jaringan hati. 

Hal ini berkaitan dengan fungsi kalsium yang berperan penting dalam proses pembekuan darah. Konsumsi rendah kalsium akan menekan hipotalamus sehingga menurunkan sekresi hormon gonadotrophin yang menyebabkan produksi telur menurun. Konsumsi pakan yang berlebihan akan dikonversi menjadi lemak yang akan dideposisi pada jaringan hati.

3.      Suhu dan kandang
Kejadian FLHS yang cenderung tinggi pada iklim panas mungkin berhubungan erat dengan peningkatan sintesis asam lemak dalam hati sehingga akumulasi dalam organ tersebut juga mengalami peningkatan.

Ayam layer yang dipelihara dalam kandang baterai akan mempunyai kandungan lemak dalam hati yang lebih tinggi dibandingkan dengan ayam yang dipelihara dengan sistem postal yang menggunakan litter. Hal ini disebabkan ruang gerak ayam terbatas sehingga energi yang dibutuhkan untuk bergerak tergolong rendah. Begitu juga layer yang dipelihara dalam kandang yang padat cenderung mudah terkena FLHS.

4.      Stres
Stres secara akut akan meningkatkan sekresi kortikosteron dan glukokortikoid namun akan menurunkan kandungan vitamin C kelenjar adrenal. Kortikosteroid akan merangsang glukoneogenesis dan meningkatkan pembentukan lemak (lipogenesis). Pada kondisi stres, berat badan akan mengalami penurunan dan disertai dengan deposisi lemak dalam hati yang berlebihan sehingga kejadian FLHS meningkat jelas.

5.      Toksin
Adanya aflatoksin, yaitu racun yang dihasilkan oleh Aspergillus flavus akan berpengaruh terhadap produksi dan performance ayam layer. Kejadian FLHS pada ayam layer dapat terjadi oleh adanya aflatoksin dalam ransum dengan kadar 20 ppb. Toksisitas yang terlihat berupa penurunan produksi dan berat telur, warna hati kekuningan, dan ukuran hati membesar.

6.      Hormon

Pada ayam layer yang menderita FLHS dapat ditemukan adanya kadar estradiol yang tinggi di dalam plasma. Hal ini menunjukan adanya suatu interaksi antara hormon dan energi, yang dapat mendukung adanya FLHS. Produksi estrogen yang berlebihan dapat menyebabkan lipogenesis yang tidak bereaksi dengan proses umpan balik. Status tiroid juga mempengaruhi deposisi lemak dalam hati.

Cara terbaik untuk mencegah FLHS adalah dengan membatasi asupan energi yang masuk ke dalam tubuh ayam atau menurunkan energi metabolisme dari pakan. Jenis biji-bijian yang digunakan sebagai bahan baku pakan dapat mempengaruhi kandungan lemak dalam hati, meskipun kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh energi metabolisme dari pakan. 

Pada sejumlah kasus, subtitusi jagung, jawawut dan gandum dapat mengatasi FLHS. Penambahan tepung ikan, tepung alfafa, biji-bijian kering yang didestilasi dalam pakan ayam layer dapat menekan deposisi lemak dalam hati.

Evaluasi manajemen kandang juga perlu diperhatikan. Hindari kepadatan kandang baterai dan suhu yang tinggi. Memberikan ruang gerak yang cukup pada ayam dapat menekan kejadian FLHS. Ayam yang terkena sindrom tersebut hendaknya dihindarkan dari hal-hal yang dapat memicu timbulnya berbagai kondisi stres.

 Selain itu, bisa ditambahkan dengan penggunaan obat herbal yang dapat mencegah kerusakan hati seperti Heprofit. Heprofit merupakan sediaan cair yang mengandung ekstrak nimba melindungi sel hati dari kerusakan dan mengoptimalkan performa ayam.



0 komentar:

Produk ASUH




Disini saya  membagikan  literatur feed intake untuk broiler serta produk  peternakan  yang ASUH







Disini saya  membagikan  literatur feed intake untuk broiler serta produk  peternakan  yang ASUH




0 komentar:

Apakah benar-benar dapat bebas dari AI setelah di vaksin AI ?


Jawab:
Ayam yang telah divaksinasi AI belum tentu ayam akan benar-benar terbebas dari AI. Keberhasilan vaksinasi dapat tercapai jika didukung pula dengan sistem penanggulangan yang terpadu, yaitu diantaranya sistem tata laksana pemeliharaan ayam secara benar misalnya pemilihan bibit DOC yang berkualitas, penyediaan nutrisi ransum yang sesuai dengan kebutuhan ternak, kebersihan (biosekuriti) peralatan, kandang dan lingkungan kandang secara rutin dan ketat dll. Dalam pelaksanaan vaksinasi untuk mengatasi AI, terkadang vaksinasi tidak melindungi sepenuhnya dari infeksi. 
Faktor-faktor yang dapat menyebabkan kegagalan vaksinasi pada ayam diantaranya yaitu :
  • Program vaksinasi, kualitas vaksin dan teknik vaksinasi yang meliputi penyimpanan vaksin, handling vaksin dan cara pemberiannya yang kurang tepat
  • Tantangan virus AI di daerah setempat terlalu ganas. Tingginya jumlah virus AI dan didukung dengan lingkungan kandang yang kotor dapat mempercepat turunnya titer antibodi atau kekebalan hasil vaksinasi


Info Medion Edisi November 2010
Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).


0 komentar:

Hal Menakutkan Apabila Sicacing Datang dan mengganggu


Komoditas ternak unggas masih memegang peran penting dalam penyediaan protein hewani di Indonesia. Namun ternyata kendala penyakit masih sering ditemui oleh para peternak dan menyebabkan penurunan produktivitas ayam, sehingga ketersediaan protein hewani tersebut masih belum optimal. Contoh penyakit yang turut menyebabkan penurunan produktivitas ayam ialah cacingan. Kasus cacingan dan program pengendaliannya di peternakan unggas tak jarang diabaikan oleh peternak karena kasus tersebut dianggap tidak berbahaya dan tidak sefatal penyakit viral ataupun bakterial. Namun kejadian penyakit yang cukup menyebabkan penurunan produksi tersebut berdampak sebagai pemicu datangnya penyakit lain. Hal ini menyebabkan kerugian dalam sektor perunggasan.

Sekilas Mengenai Penyakit Cacingan
Hujan datang, cacing pun senang. Curah hujan dan kelembaban tinggi membuat para cacing lebih suka berkembang biak. Berdasarkan data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), ternyata Bulan Oktober-Maret merupakan periode waktu yang memiliki curah hujan tinggi. Berdasarkan data kasus penyakit dari Tech. Support Medion, terlihat bahwa jumlah kasus cacingan ditemukan sangat tinggi pada bulan November dan Maret. Melihat situasi tersebut, terdapat korelasi antara curah hujan dan kelembaban terhadap tingginya kasus cacingan di suatu peternakan. Alasannya, populasi lalat dan serangga sebagai inang antara meningkat. Selain itu, air merupakan salah satu wahana yang sangat efektif dalam penyebaran telur dan larva cacing infektif dari feses ke lingkungan.
Masa dulu tidak jauh berbeda dengan masa sekarang, demikian pula dengan penyakit cacing pada ayam. Kasus infestasi cacing masih didominasi pada peternakan layer, karena ayam jenis ini hidupnya lebih lama dibandingkan dengan ayam broiler, sehingga cacing mempunyai cukup waktu untuk berkembang biak dalam rangkaian siklus hidupnya. Berbeda halnya dengan ayam broiler yang masa pemeliharaannya pendek, hanya 35 hari.
Cacing yang sering dijumpai pada ayam secara umum terdiri dari 2 jenis yaitu cacing gilig atau nematoda (Ascaridia sp., Heterakis gallinarum, Syngamus trachea, Oxyspirura mansoni) dan cacing pita atau cestoda (Raillietina sp., Davainea sp.). Dari data umur serangan yang dirangkum tim TechSupport Medion, terlihat bahwa pada ayam muda calon petelur atau pullet, kasus cacingan didominasi oleh cacing gilig (Ascaridia galli). Sedangkan sepanjang masa produksi (umur 18 minggu ke atas) umumnya didominasi oleh cacing gilig (Ascaridia galli) dan cacing pita (Raillietina sp.).


Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati
Filosofi pencegahan yang dapat dilakukan peternak terhadap kasus cacingan adalah menjaga sanitasi kandang dan melakukan pencegahan dengan pemberian obat cacing secara berkala. Bila sudah terlanjur terjadi kasus, maka disarankan untuk memberikan pengobatan yang sesuai disertai dengan perbaikan sanitasi kandang.

Beberapa tindakan penanganan yang dapat dilakukan antara lain :
  • Perbaikan tata laksana pemeliharaan
Upaya pengelolaan terbaik untuk menekan siklus perkembangbiakan cacing, contohnya dengan memperhatikan kondisi sekitar kandang agar tidak lembab. Selain itu, hindari hal-hal yang dapat menyebabkan litter basah seperti air minum tumpah atau kandang bocor, mencegah kepadatan kandang yang berlebihan, mengusahakan ventilasi kandang yang cukup serta menerapkan sistem all in all out.
  • Menjaga sanitasi kandang
Hal ini diupayakan untuk menjauhkan kandang dari inang perantara, seperti menghindari tumpukan feses pada area kandang. Meminimalkan kontak ayam dengan feses yang mengandung telur cacing serta membersihkan feses secara rutin minimal 2 minggu sekali.
  • Basmi inang antara seperti lalat, kumbang, siput, maupun cacing tanah dengan insektisida. Hindari kontak langsung antara insektisida dengan air minum, ransum atau ayam karena bersifat racun.
  • Program pengobatan yang sesuai
Penggunaan anthelmintik yang sesuai terhadap cacing gilig maupun cacing pita merupakan rekomendasi khusus menangani kasus cacingan pada ayam. Lakukan pengulangan pemberian obat cacing 1--2 bulan untuk membasmi cacing secara tuntas, mulai dari telur, larva, hingga cacing dewasa.
  • Lakukan pemeriksaan feses secara rutin 2-3 bulan sekali untuk mengetahui keberadaan telur cacing dalam feses.

Efektivitas Obat “Ampuh” untuk Cacing
Kasus parah, maka pengobatan tidak akan maksimal. Bercermin pada kondisi tersebut, sebaiknya pengobatan dilakukan secara rutin untuk memotong siklus hidup cacing. Pengobatan dengan anthelmintik yang sesuai sebaiknya dilakukan secara serempak dalam satu kandang yang terserang cacingan. Anthelmintik merupakan obat untuk menghilangkan atau mengeliminasi parasit cacing dari tubuh ayam.
Dilihat dari cara kerjanya, anthelmintik dibagi menjadi 2 jenis. Pertama, anthelmintik yang bekerja dengan mempengaruhi syaraf otot cacing sehingga cacing lumpuh dan dengan mudah dikeluarkan melalui feses. Kedua yaitu anthelmintik yang bekerja mengganggu proses pembentukan energi, sehingga cacing akan kehilangan energi dan akhirnya mati. Pengobatan cacing akan optimal jika teknik pengobatan dilakukan dengan tepat, meliputi tepat obat, tepat dosis, dan tepat aplikasi pemberian.
Pemilihan anthelmintik dikatakan tepat, jika anthelmintik mempunyai spektrum kerja yang sesuai dengan cacing tersebut. Oleh karena itu, dalam pemilihan obatnya harus didasarkan pada hasil diagnosa terhadap jenis cacing yang menginfeksi. Pemberian anthelmintik juga harus tepat dosis, yaitu hanya diberikan pada dosis tunggal (satu kali pemberian). Berbeda halnya dengan antibiotik, pemberian anthelmintik tidak boleh diberikan dalam dosis terbagi. Akibat yang ditimbulkan jika hal ini dilakukan maka dapat menyebabkan jumlah obat yang masuk ke dalam tubuh ayam menjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Tepat dosis juga berkaitan dengan tepat aplikasi pemberian. Jika aplikasi pemberian salah maka dosis pun menjadi tidak tepat. Pemberian obat bentuk kapsul, kaplet, atau injeksi dapat dilakukan dengan cara dicekokkan ataupun disuntikkan. Berbeda halnya dengan aplikasi pemberian. Jika melalui air minum ataupun ransum, maka dosis obat dan konsumsi ayam terhadap kedua hal ini harus diperhatikan, sehingga dosis yang diterima oleh ayam tepat.
Pengobatan infeksi cacing juga memerlukan proses pengulangan dan hal ini penting dilakukan. Pengulangan tersebut bisa disesuaikan dengan siklus hidup cacing dan kondisi kandang. Cacing gilik mempunyai siklus hidup 1-2 bulan, sedangkan cacing pita sekitar 1 bulan sehingga pemberian anthelmintik pertama kali disarankan saat berumur 1 bulan. Jika ayam dipelihara pada kandang postal, pemberian anthelmintik perlu diulang setelah 1-2 bulan. Sedangkan jika dipelihara di kandang baterai, pengulangan dilakukan 3 bulan kemudian karena ayam tidak kontak dengan litter.



Salah satu contoh produk obat cacing produksi Medion adalah Levamid. Obat ini mengandung niclosamide dan levamisole HCl yang ampuh membasmi cacing pita dan cacing gilik pada ayam. Niclosamide bekerja menghambat uptake (pengambilan) glukosa yang diperlukan sebagai sumber energi untuk metabolisme dalam tubuh cacing. Selain itu, hambatan pada siklus Krebs mengakibatkan terakumulasinya asam laktat yang bersifat toksik sehingga dapat membunuh cacing. Sedangkan levamisole merupakan anthelmintik berspektrum luas. Levamisole bekerja dengan cara mempengaruhi sistem syaraf otot cacing. Cara kerja ini mengakibatkan cacing lumpuh sehingga mudah dikeluarkan dari tubuh ayam melalui feses. Cacing pita mati sehingga kerugian akibat infeksi cacing dapat teratasi, dan produksi akan meningkat lagi.
Untuk mengetahui efektivitas dari Levamid, Medion mengadakan trial dan bekerja sama dengan instansi independen yaitu Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada. Kerjasama tersebut berupa percobaan menggunakan ayam petelur umur 4 minggu yang sebelumnya diinfeksi oleh cacing gilik (Ascaridia galli dan Oxyspirura mansonii) dan cacing pita (Raillietina sp.). Berdasarkan hipotesa dinyatakan bahwa obat cacing dikatakan efektif jika dapat membasmi cacing sebanyak 90% dari total cacing yang menginfeksi.
Berdasarkan trial tersebut diperoleh data bahwa efektivitas Levamid membasmi Ascaridia galli dan Oxyspirura mansonii sebesar 100%, sedangkan untuk Raillietina sp. mencapai 90%. Selain membasmi cacing, Levamid juga efektif menurunkan jumlah telur cacing dalam feses (grafik 2). Keunggulan lain Levamid adalah Levamid tidak menimbulkan keracunan ataupun efek samping terhadap pertumbuhan dan produktivitas ayam apabila pemberiannya sesuai dengan dosis dan aturan pakai. Stres akibat pemberian Levamid cenderung lebih kecil karena pemberiannya tidak perlu diulangi dalam beberapa hari.
Cacing merupakan parasit internal berukuran cukup mungil, tetapi keberadaannya dalam tubuh ayam cukup berbahaya. Gangguan pertumbuhan maupun produksi telur menjadi akibat yang harus ditanggung peternak. Menjaga lingkungan kandang dengan baik, melakukan pemeriksaan feses secara rutin, serta melakukan pengobatan cacing dengan tepat dapat mencegah dampak buruk akibat serangan cacing yang merugikan.


Info Medion Edisi Maret 2012a
Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).


0 komentar:

Hati-Hati Ketika Banyak Parasit Pada Kandang Ternak Kita


Jika orang awam atau bahkan peternak kita ditanya tentang apa saja jenis parasit yang menyerang unggas, pada umumnya jawaban spontan yang diberikan adalah cacing dan kutu. Jawaban itu tidak salah, karena memang jenis parasit tersebut paling familiar dikenal oleh banyak orang. Tetapi jika kita berbicara soal infeksi parasit, masih banyak jenis parasit lainnya yang mengancam sebuah peternakan, terlebih dengan kondisi cuaca saat ini yang didominasi oleh musim hujan.

Parasit dan Dampak yang DitimbulkanParasit adalah organisme yang mendapatkan makanan dan menggantungkan hidupnya pada hospes atau induk semangnya. Berdasarkan sifat hidupnya, parasit dibagi menjadi 2 macam yaitu parasit obligat dan fakultatif. Disebut parasit obligat apabila seluruh siklus hidupnya bergantung pada hospes, contohnya protozoa, cacing serta kutu. Dan disebut fakultatif apabila parasit tersebut tidak sepenuhnya bergantung pada hospesdan masih dapat tetap hidup meskipun berada di luar tubuh hospes, contohnya lalat dan nyamuk. Di peternakan sendiri, parasit yang menyerang unggas dibedakan menjadi endoparasit dan ektoparasit. Parasit yang hidup di dalam tubuh hospes biasa dikenal sebagai endoparasit dan parasit yang hidup di luar atau pada permukaan tubuh hospes dikenal dengan ektoparasit.
Penyakit parasit umumnya tidak menimbulkan wabah kematian yang tinggi seperti penyakit viral (ND, AI, Gumboro) atau penyakit bakterial seperti kolera. Namun demikian, penyakit parasit kadangkala menjadi faktor pendukung atas terjadinya infeksi virus maupun bakteri. Dibanding penyakit lain, penyakit parasit lebih dominan menyebabkan kerugian ekonomi berupa penurunan produksi, baik daging maupun telur, ketimbang menyebabkan kematian. Kecuali pada kasus koksidiosis yang angka kematiannya bisa cukup tinggi dan bersifat immunosuppressant.

Peran Inang Antara atau Vektor
Seperti kita ketahui bahwa yang menarik dari parasit adalah siklus hidupnya yang panjang. Dalam siklus hidupnya tersebut, keberadaan inang antara atau vektor sangatlah berperan penting. Vektor tidak hanya dibutuhkan sebagai tempat perkembangbiakan parasit, tetapi juga membantu untuk menyebarkan parasit kepada hospes utama, dalam hal ini ayam.

Keberadaan inang antara sangat dipengaruhi oleh cuaca. Saat musim hujan datang, hal lumrah jika di sekitar kandang banyak terlihat larva (ulat,red) lalat merayap dari tumpukan feses di bawah kandang menuju tanah yang lebih kering di sekitar kandang. Larva tersebut akan berubah menjadi pupa (kepompong, red). Dari pupa tersebut kemudian akan keluar lalat dewasa yang langsung terbang mencari makanan. Juga, banyaknya jentik-jentik nyamuk di genangan air di sekitar peternakan ataupun kecoa yang berkeliaran di sela-sela kandang. Lalat, nyamuk, kecoa dan serangga lain seperti kumbang dan semut, merupakan berbagai vektor berbagai penular parasit. Dari sini tidak mengherankan bila musim hujan menjadi faktor pemicu munculnya serangan parasit.


Beragam Parasit yang Menyerang Ayam
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa jenis parasit yang menyerang ayam terdiri dari endoparasit dan ektoparasit. Protozoa dan cacing merupakan endoparasit yang sering menginfeksi ayam. Sedangkan ektoparasit terdiri dari kutu, caplak, tungau dan pinjal. Protozoa sendiri menimbulkan dua kasus infeksi, yaitu koksidiosis dan leucocytozoonosis, dimana masing-masing kasus disebabkan oleh agen protozoa yang berbeda.

  • Koksidiosis
Penyakit koksidiosis atau yang biasa dikenal peternak dengan berak darah, merupakan penyakit parasit yang kasus kejadiannya paling tinggi di peternakan dan menimbulkan dampak cukup besar. Seperti dilansir salah satu majalah bahwa diperkirakan sekitar 2 juta ekor ayam dari total seluruh populasi ayam di Indonesia mati setiap tahunnya karena serangan berak darah (Poultry Indonesia, 2011).
Koksidiosis disebabkan oleh parasit protozoa Eimeria sp. yang menyerang saluran pencernaan (usus dan usus buntu). Sedikitnya terdapat 6 spesies Eimeria yang umum ditemukan menyerang ayam yaitu E. tenella, E. necatrix, E. maxima, E. acervulina, E. brunetti dan E. mitis.Eimeria yang menyerang saluran pencernaan, kemudian bermultiplikasi dan akhirnya merusak jaringan epitelium usus. Kerusakan tersebut berdampak lebih lanjut dengan terjadinya gangguan cerna serta gangguan absorpsi/penyerapan nutrisi ransum. Pada akhirnya efisiensi ransum akan menurun, pertumbuhan ayam terhambat, berat badan tidak seragam, produksi telur menurun dan bahkan timbul kematian serta gangguan pembentukan kekebalan atau immunosuppressant.
Setiap spesies Eimeria mempunyai predileksi (tempat kesukaan, red) tertentu dalam usus ayam, sehingga luka yang ditimbulkan juga akan berbeda-beda. Contohnya E. tenella yang “hobi” menempati usus buntu/sekum, serta E. necratix dan Eimeria lainnya yang menyerang usus halus.
Berbagai masalah yang menjadi pemicu infeksi Eimeria sp. diantaranya akibat tata laksana pemeliharaan yang tidak optimal. Kandang yang terlalu padat dan sanitasi jelek juga semakin meningkatkan resiko serangan penyakit ini. Manajemen litter yang buruk misalnya, menjadi salah satu pemicu berkembangnya Eimeria, karena diperoleh informasi bahwa penyakit berak darah makin mudah berjangkit ketika kandungan air pada litter sudah melebihi 30% (Martin Valks, 2001).
Supriyono (1993) menyatakan pula bahwa penularan koksidiosis dari ayam sakit ke ayam yang sehat dapat terjadi melalui ransum/air minum dan litter atau peralatan lain yang tercemar ookista. Karena pada temperatur 25-32ºC dan kelembaban yang tinggi, ookista dapat bertahan hidup lama di luar tubuh hospes. Seperti kita ketahui bahwa Eimeria sp. memiliki beberapa fase dalam siklus hidupnya, salah satunya fase ookista.
Tanda-tanda ayam yang terserang koksidiosis akan terlihat mengantuk, sayap terkulai ke bawah, bulu kasar (tidak mengkilat), nafsu makan rendah (anorexia) dan feses encer bercampur darah. Gejala pada tahap awal akan menyebabkan produksi daging dan telur ayam menurun, sedangkan pada tahap akut bisa menyebabkan kematian yang cukup tinggi.
Ayam yang terserang koksidiosis bisa diobati dengan pemberian obat seperti Coxy, Antikoksi atau Koksidex mengandung zat antiparasit golongan sulfonamida. Obat koksidiosis biasanya diberikan dengan metode 3-2-3 yaitu 3 hari obat, 2 hari air minum tanpa obat dan 3 hari obat. Hal ini berkaitan dengan daya kerja zat aktif obat, dimana pada 3 hari pertama, sulfonamida akan efektif menghambat siklus seksualEimeria sp. Selanjutnya selama 2 hari pemakaian obat dihentikan karena perkembangan Eimeria sp. memasuki tahap aseksual dan sulfonamida tidak mampu menghambat perkembangan di tahap aseksual tersebut. Selain itu, penghentian obat selama 2 hari ini juga bertujuan untuk menghindari pemberian sulfonamida yang berlebihan karena pemberiannnya dalam jangka waktu lama bisa menimbulkan efek samping. Pemberian obat kemudian dilanjutkan kembali selama 3 hari sebagai pengulangan dan untuk membunuh ookista dari lingkungan yang menginfeksi kembali sehingga dihasilkan efek terapi yang optimal. Untuk mencegah terjadinya resistensi, sebaiknya lakukan pula rolling pemberian obat koksidiosis.

  • Leucocytozoonosis
Mungkinkah ayam terserang malaria? Jawabannya tentu saja mungkin. Kasus malaria pada ayam bisa disebabkan oleh dua agen protozoa yaitu Leucocytozoon sp. (penyebab kasus malaria like) dan Plasmodium sp. (penyebab kasus malaria unggas). Namun kasus malaria akibat infeksi Leucocytozoon sp. lebih banyak ditemui ketimbang malaria akibat Plasmodium sp.
Malaria like atau yang lebih tepat disebut leucocytozoonosis, adalah penyakit yang disebabkan oleh protozoa Leucocytozoon sp. yang hidup di jaringan maupun sel-sel darah. Leucocytozoonosis ditularkan oleh lalat hitam (Simulium sp.) dan nyamuk Culicoides sp. Kedua serangga tersebut bertindak sebagai vektor dan menginfeksi ayam sehat melalui gigitan. Genangan air merupakan media ideal bagi perkembangbiakan nyamuk dan serangga lain. Maka tak heran apabila saat musim pancaroba atau musim hujan, seranganleucocytozoonosis seringkali muncul.
Meskipun kasus penyakit ini lebih sering ditemukan pada peternakan ayam pedaging, bukan berarti peternakan ayam petelur luput dari serangan. Gejala klinis leucocytozoonosis antara lain munculnya bintik-bintik merah di bawah kulit dan otot serta feses berwarna kehijauan. Ayam terlihat lesu, menggigil kedinginan dan bahkan mengalami muntah darah. Tingkat kematiannya pada anak ayam 7-50%, sedangkan pada ayam dewasa sekitar 2-60%.
Seperti halnya parasit lain, Leucocytozoon sp. juga mengalami beberapa siklus perkembangan, dimana perkembangan seksual pertama terjadi di dalam tubuh vektor. Selanjutnya, dari gigitan vektor inilah yang harus diwaspadai peternak karena sporozoite yang masuk ke tubuh ayam akan mulai berkembang dan merusak sel-sel darah.
Leucocytozoonosis dapat diatasi dengan pemberian antiparasit, contohnya adalah Maladex. Senyawa kemoterapeutik dalam Maladexdiketahui ampuh membasmi parasit Leucocytozoon sp. Maladex memutus siklus hidup Leucocytozoon sp. pada stadium sporozoite danschizogony, dengan menghambat sintesis asam folat yang dibutuhkan dalam proses sintesis DNA. Dosis pengobatannya 0,2 ml tiap kg berat badan (BB) atau 1 ml tiap liter air minum diberikan selama 2-4 hari berturut-turut dan dapat dilanjutkan dengan pemberian selama 2 hari tiap minggu dengan dosis 0,1 ml tiap kg BB atau 1 ml tiap 2 liter air minum selama ada wabah penyakit.

  • Cacingan
Penyakit parasit lain yang juga cukup tinggi kejadiannya di peternakan ialah cacingan. Kasus cacingan memang selama ini kurang diperhatikan oleh peternak, karena rendahnya angka kematian yang ditimbulkan. Sulitnya deteksi dini kasus cacingan juga disinyalir menjadi alasan mengapa penanganan cacingan sulit dilakukan sejak awal kejadian kasus.
Sebagaimana yang sering terjadi di lapangan, penyebab cacingan pada ayam masih didominasi oleh cacing Ascaridia galli (cacing gilik) dan Raillietina sp. (cacing pita). Pada ayam pullet (komersil), biasanya kasus cacingan didominasi Ascaridia galli. Sementara menjelang dewasa dan sepanjang masa produksi (umur 10 minggu ke atas) umumnya cacing yang menyerang adalah Raillietina sp.(Trobos, 2011).

1.  Cacing Nematoda (Cacing Gilik)
Ascaridia galli adalah salah satu nematoda yang biasa menyerang ayam. Cacing ini berwarna putih, bulat, tidak bersegmen, panjangnya sekitar 6-13 cm dan menyerang usus halus bagian tengah (duodenum dan jejenum).
Dalam siklus hidupnya, Ascaridia galli tidak membutuhkan inang antara. Penularan penyakit hanya terjadi secara horizontal dari ayam sakit ke ayam sehat melalui ransum, air minum, litter, atau peralatan lain yang tercemar feses yang mengandung telur infektif. Telur infektif adalah telur yang mengandung larva cacing.
Ayam yang terinfeksi cacingan akan mengeluarkan telur cacing dalam jumlah banyak. Kondisi litter yang basah serta lembab, ditambah dengan kontaminasi ransum yang tercecer, akan memungkinkan telur cacing berkembang menjadi telur infektif.
2.  Cacing Cestoda (Cacing Pita)
Raillietina sp. adalah jenis cestoda yang paling umum menginfeksi ayam. Berbeda halnya dengan cacing gilik, cacing pita tidak menyerang secara frontal. Namun perlahan tapi pasti akan terjadi penurunan produksi drastis walaupun secara kasat mata gejala klinis tidak terlihat nyata.
Raillietina sp. adalah cacing pita yang bentuk tubuhnya panjang, pipih seperti pita. Siklus hidup cacing pita umumnya melewati inang antara seperti serangga (lalat dan kumbang), serta cacing tanah. Peran inang antara itu pula yang menjadikan cacing pita mudah tersebar luas. Telur yang keluar bersama feses akan bersifat aktif di lingkungan, sehingga kemudian dapat termakan dan berkembang di dalam tubuh inang antara.
Cacing pita memiliki predileksi di usus halus, maka secara umum akibat yang ditimbulkan oleh cacing tersebut adalah kerusakan pada mukosa saluran pencernaan, dimana terjadi peradangan dan penebalan selaput lendir usus. Pada ayam petelur juga akan dijumpai penurunan jumlah, ukuran dan daya tetas telur.

Tindakan pengobatan terhadap ayam yang terkena cacingan harus dilakukan dengan tepat, baik tepat obat, tepat dosis dan tepat aplikasi. Secara detail, penjelasan mengenai pengobatan cacingan pada ayam akan dibahas pada artikel suplemen edisi kali ini.

  • Parasit Eksternal (Ektoparasit)
Parasit luar/eksternal pada ayam umumnya tidak menimbulkan kematian tetapi secara ekonomi merugikan. Parasit luar akan mengisap darah ayam dan menimbulkan kegatalan sehingga mengganggu pertumbuhan dan produksi telur. Penyakit kutuan (karena infestasi oleh kutu, caplak, pinjal atau tungau) yang sangat parah dapat menurunkan produksi telur sampai 20%. Kasus ektoparasit sendiri pada ayam pedaging jarang terjadi karena ayam dipanen pada umur 5-6 minggu. Sebaliknya ektoparasit, terutama kutu bisa menjadi musuh utama bagi peternak yang memelihara ayam petelur dengan kondisi manajemen kandang yang kurang bagus.

Kasus serangan ektoparasit relatif mudah untuk diketahui dengan memperhatikan beberapa gejala yang muncul. Contohnya ayam terlihat tidak tenang, terus menceker, kurus, bulu kusam, kehilangan nafsu makan dan seringkali mematuki bulu serta tubuhnya.

Tahukah anda bahwa terdapat banyak spesies ektoprasit yang bisa menyerang ayam. Apa saja? Kutu misalnya, yang menyerang ayam terdiri dari spesies Menopon gallinae, Menacanthus stramineus, Lipeurus heterographus, Goniodes dissimilis, Goniedes gigas, Goniocotes hologaster dan Lipeurus caponis. Tungau yang dapat menyerang ayam antara lain Dermanyssus gallinae, Ornithonyssus bursa, Syrigophilus sp., Megninia sp. dan Falculifer sp. Caplak yang dapat menyerang ayam adalah Argas robertsi. Sedangkan pinjal yang dapat menyerang ayam adalah Echidnophaga gallinacea.

Penanganan utama untuk membunuh ektoparasit seperti kutu, caplak, pinjal, tungau ialah dengan menggunakan obat anti kutu. Contoh produk yang bisa digunakan yaitu Kututox atau Kututox-S.

Pencegahan dan Pengendalian
Setelah kita mengetahui parasit apa saja yang biasa menginfeksi ayam, berikutnya kita wajib melakukan program pencegahan dan pengendalian. Lalu apa saja yang harus kita lakukan? Berikut tindakan-tindakan yang bisa diterapkan:
  • Atasi inang antara dan vektor parasit
Ketika musim hujan datang, maka peternak harus bersiap-siap menghadapi serbuan berbagai macam serangga. Peningkatan populasi serangga akan semakin memperbesar peluang penyebaran berbagai parasit pada ayam, karena mereka bertindak sebagai inang antara atau vektor dari parasit. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya untuk menekan peningkatan populasi serangga di musim hujan. Tindakan yang bisa diambil antara lain:
1.  Lakukan pembersihan feses minimal seminggu sekali. Hal ini didasarkan pada daur hidup lalat yaitu 7-10 hari. Upayakan pembersihan feses lebih sering saat musim hujan agar feses tidak basah. Untuk nyamuk, dapat dilakukan tindakan mencegah genangan air yang terbuka misalnya menutup bak penampungan air, ember dan sebagainya.
Untuk kolam, masukkan ikan ke dalamnya misalnya gurami dan nila. Keduanya suka memakan jentik nyamuk sehingga populasi nyamuk bisa ditekan. Penambahan kapur gamping ke tumpukan feses, selain memperbaiki pH juga memperbaiki daya serap air sehingga feses lebih kering. Lakukan pula pemotongan rumput liar, penguburan barang-barang/ kaleng-kaleng bekas dan pembersihan selokan.
2. Semprotkan insektisida (fogging) pada areal di sekitar kandang. Namun perhatikan dosis pemakaian dan keamanannya, karena insektisida bersifat racun bagi ayam dan manusia. Selain insektisida, penggunaan antiparasit juga merupakan langkah aman dan efektif dalam membasmi serangga di peternakan.
Contohnya Larvatox, yang efektif dan aman digunakan untuk menekan populasi lalat, dapat diberikan melalui pakan untuk menghambat pertumbuhan larva lalat menjadi pupa. Selain itu, Larvatox juga memperbaiki daya serap air di feses sehingga feses lebih kering. Untuk anti kutu yaitu Kututox-S diaplikasikan secara spray dalam kandang kosong yang tertutup lalu didiamkan selama 3 jam. Penggunaan produk tersebut dapat dijadikan alternatif pengendalian kecoa dan nyamuk. Untuk kandang yang berisi, dapat ditaburkan Kututox di depan celah- celah kayu yang diduga adalah sarang kecoa. Pemberian insektisida lain dapat pula dilakukan, tentu dengan mengikuti anjuran pemakaian agar efektivitasnya optimal.
  • Ciptakan suasana nyaman bagi ayam. Caranya dengan mengelola lingkungan peternakan dengan baik. Misalnya dengan mengatur kepadatan kandang, jaga kondisi litter agar tidak lembab dan kontrol ventilasi kandang. Penggunaan kipas pada kandang ayam juga dapat membantu menekan populasi serangga.
  • Melakukan sanitasi kandang (menggunakan Antisep, Zaldes, Formades atau Sporades) dan peralatannya. Batasi jumlah tamu yang masuk ke areal kandang, mencegah hewan liar dan hewan peliharaan masuk ke lingkungan kandang dll
  • Berikan vitamin pada ayam seperti Fortevit, Aminovit, Strong n Fit dan Vita Stress untuk menambah stamina dan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit.

Pemeriksaan Laboratorium
Seperti yang telah dijelaskan di awal bahwa deteksi dini kasus parasit sulit dilakukan. Selain itu, tanda-tanda gejala klinis dan hasil bedah bangkai yang diperlihatkan pada kasus murni parasit, komplikasi dan beberapa kasus penyakit lain seringkali mirip, sehingga perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memantapkan diagnosa.

Dengan mantapnya diagnosa maka peternak bisa dengan tepat menentukan program pengobatan. Uji laboratorium, dalam hal ini bisa dilakukan di MediLab (laboratorium Medion) yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia. Berkenaan dengan penyakit parasit, MediLab menyediakan 2 macam uji yaitu:

  • Uji feses
Uji feses bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing secara kualitatif (jenis telur cacingnya) dan secara kuantitatif (jumlah telur cacing tiap gram feses). Pemeriksaan feses hendaknya dilakukan secara rutin, yaitu 2-3 bulan sekali untuk mendeteksi infestasi cacing stadium awal yang seringkali tidak menunjukkan gejala klinis.
  • Uji parasit darah
Uji ini berguna untuk mendeteksi adanya parasit protozoa penyebab malaria atau leucocytozoonosis yang terdapat di dalam darah unggas. Pemeriksaan dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk pemeriksaan adanya sporozoit Leucocytozoon sp. atau Plasmodium sp.
Parasit memang bukan sembarang penyebab penyakit. Namun parasit mampu melipatkan kerugian yang terjadi di peternakan sehingga kita perlu cermat mengamatinya. Meskipun menghilangkan parasit adalah sesuatu yang mustahil, mengurangi angka parasit adalah tindakan penanganan yang tepat. Salam.


Info Medion Edisi Maret 2012
Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

0 komentar:

Ayam divaksin Saat sakir ?

Pertanyaan:
DOC di wilayah saya sering sekali terlambat pengirimannya, kadang sampai 1-2 hari perjalanan. Pada hari ke-3 atau ke-4 yaitu saat ayam datang, ayam langsung divaksin meskipun kondisi tubuhnya sedang tidak fit karena lamanya perjalanan. Apakah hal tersebut akan menimbulkan masalah? Kapan waktu yang tepat untuk vaksinasi pertama?

Jawab:
Vaksinasi pada ayam berkondisi tidak fit akan menimbulkan masalah. Perlu menjadi pemahaman kita bersama bahwa keberhasilan vaksinasi bukan hanya ditentukan dari kualitas produk yang kita gunakan, melainkan ada beberapa faktor yang turut ambil bagian dalam hal itu, di antaranya adalah:
  • Tata laksana vaksinasi, meliputi cara penanganan dan penyimpanan vaksin, persiapan vaksin dan peralatan sebelum vaksinasi, maupun ketepatan teknik vaksinasinya
  • Program vaksinasi yang diterapkan, termasuk jadwal pelaksanaan vaksinasi
  • Status atau kondisi kesehatan ayam
  • Penerapan program pendukung, seperti tata laksana pemeliharaan yang baik dan biosecurity yang ketat
Anak ayam yang baru menetas masih memiliki kondisi tubuh yang lemah. Empat belas hari pertama masa pemeliharaan merupakan masa kritis dimana terjadi perkembangan pada sistem kekebalan, pernapasan, pencernaan, dan pengaturan suhu tubuh. Pada masa-masa inilah kita wajib melindungi ayam dari berbagai faktor stres. Stres pada anak ayam dapat menyebabkan imunosupresi sehingga agen-agen penyakit dapat dengan mudah menyerang tubuh ayam. Selain itu, stres juga akan menurunkan efektivitas vaksinasi, penurunan daya tahan tubuh ayam, feed intake, dan pertambahan bobot badan.
Faktor yang dapat menyebabkan stres pada anak ayam antara lain transportasi dari penetasan (hatchery) ke kandang, pengaturan suhu pemanas (brooder) yang tidak merata, dan perubahan cuaca secara tiba-tiba. Seperti kondisi yang telah Bapak sebutkan, bahwa sering terjadi keterlambatan kedatangan DOC (terlambat chick-in), tentunya hal ini akan menjadi masalah serius. Apalagi keterlambatan kedatangan DOC hingga 2 hari, hal ini berarti DOC berada dalam kondisi tidak nyaman lebih lama, sehingga stres karena transportasi yang ditimbulkan tentu akan lebih parah.
Skema 1. Mekanisme Hambatan Pembentukan Kekebalan Tubuh Ayam Akibat Stres



Saat stres tubuh ayam akan merespon dengan disekresikannya adrenocorticotropic hormone (ACTH) oleh hipofisis anterior dalam jumlah yang berlebihan. Peningkatan kadar ACTH ini akan memicu korteks adrenalis untuk meningkatkan hormon kortisol sehingga mengakibatkan penurunan fungsi organ kekebalan primer (bursa Fabricius dan thymus). Kondisi ini dapat diartikan, saat stres terjadi maka sistem imun (kekebalan) mengalami gangguan dan berakibat pada pembentukan kekebalan hasil vaksinasi yang tidak optimal, sehingga ayam tetap dapat terserang penyakit.
Anak ayam memiliki kekebalan yang berasal dari induk yang disebut dengan antibodi maternal. Antibodi maternal ini berperan dalam memberikan perlindungan pada anak ayam dari penyakit, namun antibodi maternal akan mulai turun pada umur 7 hari. Oleh karena itu vaksinasi pertama paling lambat dilakukan pada umur 7 hari. Sebenarnya vaksinasi bisa dimulai pada anak ayam umur 1 hari (DOC) atau segera setelahchick-in. Namun vaksinasi pada umur 1 hari atau setelah chick-in harus mempertimbangkan kondisi ayam. Sebagaimana kita ketahui bahwa DOC yang baru datang memiliki tingkat stres yang tinggi akibat pengangkutan selama perjalanan.
Oleh karena itu kami menganjurkan vaksinasi pertama dilakukan pada umur 4-5 hari (1-2 hari setelah Bapak melakukan chick-in) agar ayam bisa beradaptasi terlebih dahulu terhadap lingkungan kandang, ransum, dll sehingga kondisi tubuh menjadi prima saat divaksinasi. Pada 2 hari sebelum dan sesudah vaksinasi berikan multivitamin seperti Vita Stress atau Fortevit untuk meningkatkan stamina dan mengurangi stres.


Info Medion Edisi Januari 2015
Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

0 komentar:

Antibiotik Penyakit Pernapasan untuk Anak Ayam

Pertanyaan:
Apa jenis antibiotik penyakit pernapasan dan pencernaan yang cocok untuk anak ayam?

Jawab:
Pada umumnya antibiotik yang saat ini beredar di pasaran bersifat broad spectrum (spektrum luas) dan dapat digunakan untuk mengatasi penyakit pernapasan maupun pencernaan pada anak ayam yang disebabkan oleh agen bakterial. Akan tetapi antibiotik yang memiliki spektrum spesifik terhadap penyakit tertentu akan memberikan daya kerja yang lebih optimal.
Untuk mengatasi penyakit pernapasan pada anak ayam dapat digunakan produk antibiotik seperti Doxytin, Erysuprim atau Neo Meditril. Sementara untuk mengatasi penyakit pencernaan pada anak ayam dapat digunakanproduk antibiotik seperti Amoxitin, Koleridin atau Coliquin.
Dalam memberikan antibiotik, di samping harus memilih jenis dan aplikasi yang tepat, perlu diperhatikan juga cara pemberian dan rollingantibiotik yang benar. Pemberian antibiotik sebaiknya dilakukan sebanyak dua kali sehari, yaitu pada pagi-siang hari (06.00-12.00) dan pada siang-sore hari (12.00-18.00). 
Tujuannya adalah untuk memaksimalkan lama kontak obat dengan bakteri sehingga hasilnya lebih efektif. Air yang digunakan untuk melarutkan antibiotik juga harus dipastikan terbebas dari cemaran maupun bahan-bahan yang dapat mengganggu stabilitas dan daya kerja obat.
Rolling antibiotik atau penggantian jenis antibiotik perlu dilakukan setelah digunakan selama 3-4 periode pengobatan untuk menghindari terjadinya resistensi bakteri tehadap salah satu jenis antibiotik. Perlu diperhatikan, bahwa penggantian antibiotik di sini adalah mengganti jenis zat aktif yang satu dengan yang zat aktif lainnya dari golongan antibiotik yang berbeda.


Info Medion Edisi April 2013
Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

0 komentar:

STRATEGI MENJAGA KESEHATAN AYAM


Keoptimalan fungsi masing-masing organ pernapasan sangat besar pengaruhnya terhadap produktivitas ayam, bahkan menjadi penentu kehidupan ayam. Perlu kita ingat kembali, suplai oksigen yang berkualitas dalam jumlah yang cukup menjadi prasyarat utama berlangsungnya fungsi tubuh ayam.

Sistem Pernapasan Ayam

Saluran pernapasan bagian atas ayam terdiri dari rongga hidung, laring, trakea (tenggorokan), bronkus dan bronkeolus. Rongga hidung terhubung langsung ke beberapa sinus seperti sinus infraorbitalis dan sinus supraorbitalis. Karena berhubungan langsung, sangat memudahkan benda-benda asing yang terdapat di udara, termasuk bibit penyakit dapat masuk ke dalam sinus secara langsung. Laring dan trakea tersusun atas otot dan tulang rawan.
Pada permukaan dalam (epitel) terdapat silia, sebagai alat pertahanan terhadap benda asing. Silia (bulu getar) berperan menyaring partikel-partikel yang tercampur udara yang dihirup ayam, seperti debu maupun bibit penyakit (virus maupun bakteri). Sedangkan pada bagian trakea, bronkus dan bronkeolus dilengkapi dengan sel-sel epitel yang juga mempunyai bulu getar dan sel tak bersilia yang akan menghasilkan lendir yang mengandung enzim proteolitik dan surfaktan. Adanya enzim dan surfaktan (penurun tegangan permukaan) tersebut mampu menghancurkan beberapa mikroorganisme patogen.
Fungsi utama saluran pernapasan ayam adalah menyediakan oksigen, mengeluarkan karbondioksida (CO2), membantu proses kekebalan primer dan memperlancar mekanisme pengaturan suhu tubuh. Syarat utama agar sistem pernapasan berfungsi baik adalah ketersediaan udara bersih dan saluran pernapasan yang sehat. Di dalam paru-paru terjadi pertukaran udara bersih dan kotor. Udara bersih (kaya oksigen) akan diedarkan ke seluruh tubuh.
Ayam sendiri memiliki sistem pernapasan yang agak berbeda dengan sistem pernapasan pada hewan menyusui (mamalia, red), karena dilengkapi dengan kantung udara yang mempunyai struktur dan fungsi yang unik, serta paru-paru yang tergolong sederhana. Kantung udara merupakan selaput tipis berbentuk seperti balon yang berfungsi untuk membantu pernapasan. Kantung udara memiliki sel fagosit dalam jumlah sedikit, sedangkan proses pertukaran udara juga terjadi di kantung udara tersebut. Padahal setiap udara yang masuk mengandung berbagai bibit penyakit. Selain itu, kantung udara tersusun atas sel yang tipis dan sedikit pembuluh darah. Pada bagian ini sangat sedikit sel fagosit, sedangkan agen infeksi di lingkungan sangat banyak. Hal ini akan memudahkan agen infeksi untuk melakukan kolonisasi dan merusak sel-sel epitel. Maka tidak heran jika terjadi perubahan pada kantung udara, seperti mengalami peradangan atau menjadi keruh, hal tersebut bisa menjadi salah satu indikasi adanya serangan penyakit pernapasan.
Di samping itu, pada ayam, pertukaran gas/udara pernapasan terjadi di sepanjang kapiler-kapiler udara paru-paru yang berbentuk seperti jala, bukan di dalam alveolus (rongga udara dalam paru-paru). Itulah sebabnya mengapa ayam atau bangsa unggas secara umum sangat mudah mengalami keracunan lewat sistem pernapasan.
Kasus Penyakit Pernapasan
Kondisi umum penyakit pernapasan yang menyerang ayam pedaging dan petelur di Indonesia pada tiga tahun terakhir telah dirangkum oleh tim Technical Education & Consultation (TEC) Medion pada Grafik 1 dan 2. Dari kedua grafik tersebut dapat dilihat bahwa serangan penyakit pernapasan masih mendominasi dalam 10 top kasus penyakit. Penyakit bakterial masih didominasi oleh CRD, Korisa, dan CRD kompleks. Sedangkan ND dan AI masih menjadi primadona penyakit viral. Terutama penyakit AI pada ayam layer cukup marak.

Review Penyakit Pernapasan
  • CRD dan CRD K
    Rusaknya saluran pernapasan oleh Mycoplasma gallisepticum (penyebab CRD) akan menekan sistem kekebalan lokal pada lokasi tersebut sehingga agen penyakit lain mudah masuk ke dalam tubuh ayam. Atau dengan kata lain, CRD berperan sebagai pembuka pintu gerbang sistem pertahanan primer dan akhirnya memicu serangan infeksi penyakit sekunder. Komplikasi dengan colibacillosis merupakan yang paling umum terjadi di lapangan yang disebut dengan CRD kompleks.

  • ND dan AI
    Selain di musim hujan, saat pancaroba pun beberapa penyakit viral pernapasan seperti ND dan AI wajib diwaspadai. Pergantian cuaca yang ekstrem bisa berdampak stres pada ayam. Akibatnya daya tahan tubuh ayam menurun sehingga bibit penyakit dapat dengan mudah menyerang, termasuk virus AI, ND dan sebagainya. Peradangan dan perdarahan trakea adalah gejala perubahan bedah bangkai yang paling umum dari ayam yang terinfeksi ND atau AI.

  • IB
  • Infeksi virus IB klasik biasanya menyerang saluran pernapasan ayam yang ditandai dengan gejala ngorok, bersin dan cekrek (batuk ringan). Organ reproduksi juga mengalami kerusakan sehingga kualitas dan kuantitas telur turun. Kasus IB varian ditunjukkan dengan adanya perubahan patologi anatomi berupa pelebaran oviduk berisi cairan bening atau oviduct cystic.

  • ILT
    Virus ILT mempunyai konsentrasi yang sangat tinggi pada permukaan trakea ayam yang terinfeksi (Bagus, 2000). Pintu masuk virus ILT yang alami yaitu melalui saluran pernapasan bagian atas dan mata (okuler).

  • Korisa
    Ayam yang terserang korisa akan mengalami pembengkakan muka, terutama di sekitar sinus infraorbitalis. Selain itu, tak jarang juga ditemukan mata berair seperti menangis. Saat dilakukan bedah bangkai, akan ditemukan di sekitar sinus infraorbitalis, adanya lendir atau kotoran dari hidung yang mula-mula encer dan berlanjut sampai kental berbau busuk.
Penanganan saat Terjadi Kasus
Dalam hal ini peternak perlu memperbaiki kondisi kandang serta melakukan penanganan feses, sekam, dan serangga dengan tepat agar tidak mempengaruhi kondisi ayam.
    • Identifikasi penyebab
      Identifikasi penyakit yang keliru berakibat pada penanganan yang kurang tepat. Segera cari penyebab kasus penyakit pernapasan misal karena faktor non infeksius atau penyakit. Pada kasus infeksius atau penyakit harus dilakukan diagnosa secara cepat dan tepat terkait dengan pemilihan antibiotik yang sesuai dengan penanganan penyakit.
      Isolasi dan seleksi
    • Pemberian antibiotik
      Untuk menangani penyakit yang disebabkan oleh bakteri (CRD, CRD kompleks, korisa) perlu diberikan pengobatan dengan antibiotik. Penyakit CRD tidak bisa disembuhkan dengan antibiotik golongan penicillin dengan target kerja pada dinding sel karena Mycoplasma sp tidak mempunyai dinding sel. Sebagai pilihan antibiotik, dapat diberikan dari golongan enrofloksasin (Proxan-SNeo Meditril atauDoctril). Akan tetapi jika serangan agak parah dan kesulitan minum, ayam perlu diobati juga dengan antibiotik yang diberikan lewat injeksi/suntik seperti Vet StrepGentamin, atau Medoxy-LA.
    • Pemberian multivitamin
      Dalam hal ini kita perlu untuk mempercepat pemulihan kesehatan dan meningkatkan kekebalan tubuh ayam. Pemberian multivitamin (Fortevit atau Vita Stress)
    • Perbaikan manajemen pemeliharaan dan biosekuriti secara ketat
      Perlu dievaluasi kembali mengenai manajemen perkandangan dan tata laksana pemeliharaan yang kita aplikasikan.

Upaya Menjaga Kesehatan Pernapasan

Menghindarkan atau meminimalkan faktor penyebab gangguan saluran pernapasan menjadi salah satu solusi yang perlu kita kedepankan. Pada dasarnya pengendalian dalam menjaga kesehatan pernapasan diantaranya:
    • Menciptakan Kondisi kandang yang Nyaman
Perbaiki kandang yang bocor untuk menghindari air hujan masuk ke kandang. Sekam yang lembab dan basah harus segera diganti atau ditambah dengan sekam baru. Namun sebelum ditambah sekam baru, sekam yang basah tadi sebaiknya ditaburi kapur tohor terlebih dahulu untuk membunuh mikroba di dalamnya. Kadar amonia di kandang dapat dikurangi dengan penyerapan nutrisi di dalam tubuh ayam yang optimal dan mengurangi pembentukan amonia. Misalnya dengan pemberian AmmotrolBerantas lalat, nyamuk, dan serangga lainnya dengan insektisida. Untuk membasmi lalat bisa menggunakan produk LarvatoxFlytox dan Delatrin.
Suplai oksigen harus terpenuhi secara kualitas dan kuantitas. Sistem penapasan ayam berfungsi mensuplai udara atau oksigen ke dalam tubuh ayam. Jika udaranya kurang berkualitas, tentu akan mengakibatkan gangguan pada sistem pernapasan ayam. Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait dengan suplai oksigen yang baik ialah pengaturan ventilasi kandang, manajemen buka tutup tirai, penambahan exhaust fandan pengaturan kepadatan maupun jarak kandang. Atur sistem buka tutup tirai kandang dengan baik untuk membantu kelancaran sirkulasi udara dari luar ke dalam kandang sehingga kadar amonia bisa terkendali.
    • Biosekuriti untuk meminimalisir tantangan bibit penyakit
      Penyemprotan kandang setiap hari, pencucian dan sanitasi tempat pakan dan tempat minum tiap 3-4 hari sekali, serta desinfeksi air minum untuk mencegah penularan bakteri lewat air minum. Sanitasi air minum diantaranya bisa dilakukan dengan cara pemberian antiseptik (DesinsepAntisepNeo AntisepMedisep) atau kaporit (12-20 gram tiap 1.000 liter air). Sanitasi air ini sebaiknya dilakukan sesudah penyaringan/pengendapan agar antiseptik bekerja lebih efektif karena senyawa dalam antiseptik mudah terpengaruh oleh partikel organik.
    • Program kesehatan
      Melakukan program cleaning program (aplikasi antibiotik sebagai tindakan pencegahan). Akan lebih efektif jika peternak juga memiliki data kejadian penyakit sehingga cleaning program dapat benar-benar dilakukan sebelum penyakit terjadi. Untuk penyakit yang disebabkan virus jika sudah terserang tentu tidak bisa diobati. Jika ayam terlanjur terserang penyakit tersebut. Lakukan program vaksinasi sesuai jadwal. Beri perhatian terhadap penyakit-penyakit yang meningkat terutama saat musim hujan seperti ND, AI, korisa dan IB. Alangkah lebih baiknya jika program vaksinasinya disesuaikan dengan waktu serangan penyakit, jenis vaksin yang digunakan (aktif atau inaktif, tunggal atau gabungan) dan umur ayam. Vaksin yang bisa digunakan antara lain: 

    •  Medivac ND Hitchner B1Medivac ND La SotaMedivac ND Clone 45Medivac IB H-120Medivac ND-IBMedivac ND EmulsionMedivac AIMedivac ND G7-AI Emulsion dan Medivac ND G7-EDS-IB Emulson.
    • Pemberian terapi suportif
      Untuk membantu meningkatkan daya tahan tubuh dan menjaga kesehatan terutama pada organ pernapasan, alternatif cara yang bisa dilakukan ialah memberikan suplemen vitamin herbal, seperti KumavitImustim dan Respitoran. Di dalam Kumavit terkandung ekstrak herbal Curcuma, multivitamin, asam amino, dan elektrolit yang dapat membantu memperbaiki proses metabolisme nutrisi di dalam tubuh ayam saat sakit, serta menambah nafsu makan dan daya tahan tubuh. Untuk mengurangi gangguan pernapasan, pemberian obat mukolitik dan antiradang seperti Respitoran yang menggunakan produk berbahan alami (herbal) menjadi salah satu pilihan penanganan yang tepat untuk mengatasi gangguan pernapasan. 
    • Saat terjadi infeksi bakterial maka akan timbul keradangan di saluran pernapasan yang kemudian menyebabkan produksi mukus atau lendir berlebih. Mukus yang berlebih tersebut akan menyebabkan saluran pernapasan lebih sempit dan ayam kesulitan bernapas. Respitoran mengandung herbal yang berfungsi sebagai antiinflamasi, menurunkan sekresi mukus, dan mengencerkan dahak. 
    • Sedangkan Imustim merupakan suplemen herbal berbentuk cair yang berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh unggas. Pemberian Imustim sebelum dan sesudah vaksinasi bekerja sebagai imunostimulan dengan mempercepat peningkatan titer antibodi hasil vaksinasi. Imustim juga mampu mempercepat peningkatan titer antibodi hasil vaksinasi.
    • Monitoring titer antibodi
      Sulitnya menentukan analisa penyakit seperti AI, ND atau IB, merupakan salah satu kendala yang dihadapi banyak peternak di lapangan. Pemanfaatan uji serologis (misalnya HI test dan ELISA), uji biologi molekuler (PCR dan sequencing) dapat dilakukan sebagai sarana meneguhkan diagnosa penyakit.
    •  Uji serologis juga bermanfaat untuk monitoring titer antibodi seperti AI. Medion menghadirkan MediLab (Medion Laboratorium) di beberapa kota besar di Indonesia, dengan begitu peternak diharapkan terbantu dengan adanya jasa uji laboratorium ini.


Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id). 


0 komentar:

INFO

loading...