info terkini

loading...

Analisa Peluang usaha penggemukan sapi potong


Pusing setelah pensiun dan ingin memulai usaha? Atau tertantang ingin mencoba usaha baru? Jika jawabannya iya, maka usaha penggemukan sapi potong tidak ada salahnya Anda coba.
Secara umum, ada 3 cabang usaha budi daya sapi potong yang dapat Anda pilih, yaitu pembibitan, penggemukan, atau kombinasi keduanya. Baik usaha pembibitan maupun penggemukan, keduanya sama-sama memiliki peluang besar dan tantangan tersendiri jika dikembangkan. Namun pada kesempatan kali ini, kita akan kupas terlebih dahulu usaha penggemukan sapi potong.


Penggemukan Sapi, Berpeluang Besar di Tanah Air
Kegiatan usaha penggemukan sapi potong dimulai dari membeli sapi bakalan jantan berumur 2-2,5 tahun untuk digemukkan selama 3-4 bulan, kemudian dijual kembali. Berbeda dengan usaha pembibitan, dimana kegiatannya dimulai dengan memelihara sapi induk hingga dewasa dan menghasilkan pedet/bibit-bibit baru sapi bakalan untuk digemukkan.
Dengan demikian, perputaran modal pada usaha penggemukan akan jauh lebih cepat dibanding usaha pembibitan. Bayangkan, hanya dalam waktu 3-4 bulan, peternak sudah bisa menjual sapi potong-nya kembali dan mendapatkan keuntungan. Terutama, jika dijual pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, keuntungannya bisa lebih besar lagi.
Belum lagi dengan besarnya keuntungan yang akan diperoleh peternak jika dapat menggemukan sapi dengan pemberian pakan yang lebih efisien. Contohnya dengan memberi pakan berupa konsentrat dan limbah pertanian, peternak dapat menghemat biaya pakan. Di samping itu, penjualan kotoran sapi sebagai pupuk kompos dapat memberikan keuntungan tambahan.
Di sisi lain, usaha penggemukan sapi potong nampaknya akan terus mempunyai peluang yang baik. Hingga saat ini pasar daging sapi Indonesia masih terus kekurangan pasokan. Dengan populasi penduduk terbesar keempat di dunia setelah Cina, India, dan Amerika Serikat, Indonesia memiliki tingkat konsumsi daging sapi yang tinggi. Permintaan ini meningkat menjelang hari raya.
Menurut Kementerian Pertanian, kebutuhan daging nasional pada tahun 2014 diperkirakan mengalami kenaikan sekitar 6% dari yang semula 549.000 ton di tahun 2013. Dari jumlah tersebut, hanya 80% yang dapat dipenuhi produksi dalam negeri, sementara sisanya dipenuhi dari impor.
Untuk mencapai kemandirian daging sapi, pemerintah telah mencanangkan program swasembada daging sapi. Program ini awalnya ditargetkan pada tahun 2010. Namun, diundur menjadi tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah sapi potong dalam negeri belum dapat memenuhi 90% kebutuhan konsumsi masyarakat. Itu artinya, usaha budi daya sapi potong, termasuk unit usaha penggemukannya memiliki peluang besar di tanah air.


Kendala Usaha Penggemukan Sapi

Meski usaha penggemukan sapi memiliki peluang besar, bukan berarti usaha ini akan bebas melenggang tanpa masalah. Sekelumit masalah yang biasanya muncul antara lain:
  • Butuh modal besar di awal pemeliharaan untuk membeli sapi bakalan.
  • Sulit memperoleh bakalan sapi berkualitas.
  • Harga daging sapi potong di pasaran normal tidak sebanding dengan biaya pakan yang dikeluarkan.
  • Kenaikan bobot badan sapi tidak optimal akibat serangan penyakit atau kekurangan nutrisi pakan.
  • Sulitnya pemasaran sapi potong bagi peternak pemula.

Solusi Terhadap Masalah yang Dihadapi

  • Untuk menambah modal pembelian sapi bakalan, tidak ada salahnya jika kita mengajukan kredit investasi atau pinjaman ke bank.
  • Beli bakalan sapi yang memiliki data recording baik, atau dari peternak yang berpengalaman dan terpercaya.
  • Pilih jenis sapi bakalan yang sesuai dengan kondisi lingkungan tempat usaha kita (memiliki daya adaptasi yang baik) dan memiliki sejarah mampu menghasilkan pertambahan bobot badan yang tinggi.
  • Manfaatkan limbah pertanian dan perkebunan untuk mengefisienkan biaya pakan. Perlu diketahui bahwa keberhasilan usaha penggemukan sapi potong sangat ditentukan oleh pakan. Tidak jarang kita harus memberikan pakan konsentrat (bernutrisi tinggi) lebih banyak dibanding pakan hijauan untuk mengejar pertambahan berat badan yang tinggi dalam waktu singkat. Jika konsentrat yang digunakan masih bergantung 100% pada konsentrat pabrikan, otomatis kita harus mengeluarkan biaya pakan lebih tinggi. Itu artinya, biaya produksi secara keseluruhan pun akan ikut meningkat.


  • Atasi serangan penyakit dengan memberikan obat-obatan yang sesuai. Penyakit yang masih sering menyerang sapi potong dewasa ialah cacingan. Untuk itu, berikan anthelmintik (obat cacing) saat sapi terserang cacingan, atau berikan secara berkala setiap 3-4 bulan sekali guna membasmi cacing yang sebelumnya sudah berada di dalam tubuh sapi. Beberapa produk anthelmintik Medion yang dapat digunakan untuk memberantas cacing gilig pada sapi yaitu Nemasol-KVermizyn SBKWormectin Injeksi dan Wormzol-B. Produk Wormzol-Bselain efektif untuk semua stadium cacing gilig, dapat juga digunakan untuk memberantas cacing pita dan cacing hati dewasa pada sapi.


  • Berikan suplemen seperti molases, Mineral Feed Supplement S untuk membantu meningkatkan nafsu makan (konsumsi) serta menyediakan kebutuhan nutrisi mikro bagi sapi potong. Bisa diberikan pula vitamin seperti Injeksi Vitamin B Kompleks dan Vita B Plex Bolus untuk memperbaiki produktivitas. Dengan penambahan berbagai suplemen tersebut diharapkan pertambahan bobot badan sapi potong bisa lebih optimal.
  • Dalam strategi pemasaran, pilih lokasi penggemuk-an yang dekat dengan daerah konsumen (pasar). Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah melakukan distribusi, sehingga penyusutan bobot badan selama transportasi menuju pusat konsumen dapat diperkecil, biaya pengangkutan relatif murah, serta efisiensi waktu.
  • Ketika sapi sudah berhasil digemukkan, perlu dipertimbangkan apakah sapi potong akan dijual dalam kondisi hidup atau sudah dalam bentuk karkas. Jika dalam bentuk karkas, maka sebelumnya peternak harus menjalin kerjasama dengan unit (rumah potong hewan) terdekat dan sudah memiliki konsumen tetap/kontak pembelian, baik dengan pasar tradisional maupun pasar swalayan. Namun jika sapi akan dipasarkan dalam kondisi hidup, maka peternak bisa menjualnya ke pasar hewan. Namun penting bagi peternak untuk mengetahui tata niaga ternak sapi yang berlaku di berbagai wilayah, termasuk trik untuk mengurangi risiko kerugian pada saat melakukan transaksi di pasar hewan.

Kunci Sukses Budi Daya Sapi
Setelah mengetahui apa saja kendala yang akan dihadapi ketika memulai usaha penggemukan sapi potong, serta solusi mengatasi kendala tersebut, berikut kami berikan kiat-kiat bagi para calon peternak yang ingin memulai usaha penggemukan sapi:
  • Cari informasi awal sebelum beternak
    Sebaiknya calon peternak memiliki pengetahuan mengenai teknik memelihara sapi. Pengetahuan akan pasar juga penting agar peternak tidak tertipu dalam memasarkan sapi yang berhasil digemuk-kan. Informasi ini dapat diperoleh dari buku maupun artikel-artikel di majalah dan internet. Berkonsultasi dengan ahli peternakan juga menjadi alternatif yang baik untuk menggali informasi. Selain itu, saat ini juga banyak seminar maupun pelatihan yang berkaitan dengan teknis beternak.
  • Mau memulai dari skala kecil
    Tidak ada usaha yang langsung besar ketika baru dimulai. Setiap usaha dirintis dari skala kecil yang kemudian menjadi besar dengan ketekunan dan kerja keras. Modal yang besar di awal usaha bukanlah jaminan suatu usaha akan sukses. Usaha penggemukan sapi potong sendiri dapat dimulai dari kecil dengan jumlah sapi 2-4 ekor.
  • Memulai pada waktu yang tepat
    Saat yang baik untuk membeli sapi bakalan adalah menjelang hari raya Idul Fitri. Pada saat itu banyak peternak menjual sapi mereka untuk biaya merayakan Lebaran. Sapi pun bisa didapat dengan harga yang lebih murah. Sekitar 4 bulan kemudian ketika hari raya Idul Adha tiba, sapi yang telah dewasa dapat dijual kembali dengan harga berlipat. Namun, sebenarnya untuk penggemukan sapi dapat dimulai kapan saja karena masyarakat akan selalu membutuhkan daging sapi.
  • Mengembangkan usaha dari keuntungan
    Sisihkan sebagian keuntungan yang didapat untuk membeli sapi tambahan. Jika perlu, gunakan seluruh keuntungan yang didapat. Saat populasi sapi yang dimiliki sudah cukup besar, peternak dapat menikmati keuntungan yang diperolehnya. Meski memang dalam berbisnis, mental perlu dipersiapkan untuk menghadapi adanya kerugian. Terlebih lagi dalam usaha budidaya sapi, sapi bisa saja mati karena stres maupun penyakit.
  • Mencatat setiap kegiatan
    Pencatatan yang dilakukan meliputi semua kegiatan di peternakan, seperti jumlah pakan sapi dan peningkatan bobot dari bulan ke bulan. Pertambahan populasi, penjualan sapi, jumlah sapi yang sakit maupun mati, serta obat dan suplemen yang diberikan juga perlu dicatat. Ini penting untuk mengetahui track record kesehatan ternak terutama ketika terjadi serangan penyakit. Selain itu, pencatatan keuangan juga penting dilakukan agar besarnya modal dan keuntungan dapat diketahui secara pasti. Dengan demikian, dapat diketahui dengan jelas berapa dana yang harus dialokasikan untuk periode berikutnya.
  • Bergabung dengan kelompok ternak sapi
    Kelompok ternak dibentuk oleh peternak-peternak dengan bidang usaha sama. Dengan bergabung dalam kelompok ini, peternak dapat memperoleh banyak manfaat, seperti kemudahan mendapatkan modal berbunga rendah, memperoleh kredit dari bank, serta sarana berbagi pengetahuan dan pengalaman.
  • Jangan ragu memulai pembibitan
    Banyak peternak yang enggan memulai usaha pembibitan sapi. Padahal permintaan yang tinggi akan sapi bakalan hingga saat ini belum dapat dipenuhi seluruhnya oleh usaha pembibitan sapi potong dalam negeri. Hal ini tercermin pada impor sapi bakalan yang semakin besar, serta harga sapi bakalan di dalam negeri yang semakin tinggi. Untuk itu, jangan ragu memulai usaha pembibitan sapi potong karena peluangnya juga sangat besar.

Analisis Usaha Penggemukan Sapi Potong

Untuk memberikan gambaran bagi calon peternak mengenai usaha penggemukan sapi potong, berikut kami tampilkan contoh analisis usahanya.
Asumsi yang digunakan dalam analisis ini antara lain:
  • Lahan yang digunakan merupakan tanah pekarangan yang belum dimanfaatkan dan tidak diperhitungkan untuk sewa lahannya
  • Sapi bakalan yang dipelihara: 10 ekor sapi PO
  • Harga sapi bakalan: Rp 8.000.000,-/ekor
  • Bobot badan awal sapi bakalan: 250 kg/ekor
  • Sapi dipelihara selama 4 bulan dengan pertambahan bobot badan (PBB) sekitar 0,8 kg/ekor/hari, sehingga:
PBB selama 4 bulan = 0,8 kg x 120 hari
= 96 kg/ekor
Bobot akhir sapi = 250 kg + 96 kg
= 346 kg
Bobot seluruh sapi = 346 kg x 10 ekor
= 3.460 kg
Hasil penjualan sapi = 3.460 kg x Rp. 40.000/kg bobot hidup sapi
= Rp. 138.400.000

  • Luas kandang: 45 m2
  • Biaya pembuatan kandang: Rp 400.000/m2
  • Penyusutan kandang 20% per tahun (dengan demikian penyusutan untuk satu periode ± 7%)
  • Gaji tenaga kerja (2 orang): Rp 500.000,-/bulan
  • Biaya listrik: Rp. 180.000
  • Biaya air: Rp. 225.000
  • Biaya peralatan: Rp 500.000,-/tahun, sehingga untuk satu periode Rp 170.000
  • Kotoran yang dihasilkan selama 1 periode sebanyak 5.000 kg dengan harga Rp 300,-/kg
  • Biaya pakan untuk satu periode:
  • Hijauan : 40 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 100
  • Konsentrat : 3 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 1.500
  • Suplemen pakan : 3 kg x 10 ekor x 120 hari x Rp. 200
  • Biaya vitamin B kompleks (1 kali pemberian selama periode pemeliharaan untuk meningkatkan pertumbuhan dan daya tahan tubuh): Rp. 13.000 untuk 10 ekor sapi
  • Biaya obat cacing (1 kali pemberian selama periode pemeliharaan sebagai upaya mencegah cacingan): Rp. 50.000 untuk 10 ekor sapi

Dari hasil uraian perhitungan di atas, diperoleh nilai rasio pendapatan : biaya = 1,22. Ini artinya dalam satu periode penggemukan, dari setiap modal Rp. 100 yang dikeluarkan akan diperoleh pendapatan sebanyak Rp. 122. Selain itu, dari perhitungan di atas juga dapat diketahui nilai titik impas (Break Even Point/BEP) nya, yaitu:
1) BEP harga = total biaya : berat sapi total
= Rp. 114.898.000 : 3.460 kg
= Rp. 33.208/kg
2) BEP produksi = total biaya : harga jual sapi (per kg)
= Rp. 114.898.000 : Rp. 40.000
= 2.873 kg
Dari nilai BEP dapat disimpulkan bahwa usaha penggemukan sapi ini akan mencapai titik impas jika 10 ekor sapi mencapai bobot badan 2.873 kg atau harga jual Rp 33.208/kg.

Demikian kilas informasi mengenai peluang bisnis penggemukan sapi potong yang kami berikan. Selain informasi di atas, sebenarnya masih banyak lagi kiat-kiat yang dapat kita pelajari terkait usaha penggemukan sapi potong ini. Intinya kita harus yakin bahwa berapapun jumlah sapi yang nantinya kita gemukkan, berapapun banyak saingan kita, sapi dipastikan tetap akan laku terjual. Dengan melihat peluang yang masih terbuka lebar tersebut, siapapun dapat memulai usaha ini, asalkan ada kemauan, kemampuan, serta memiliki fasilitas penunjang. Bagaimana? Anda berminat jadi peternak sapi potong?


Info Medion Edisi Juni 2014
Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

1 komentar:

Cara Mengobati Sapi yang Belatungan

Dalam menjalankan usaha peternakan sapi, peternak selalu menghadapi berbagai masalah termasuk serangan penyakit. Salah satu penyakit yang membutuhkan penanganan serius adalah myasis. Kasus myasis pertama kali dilaporkan terjadi tahun 1926 pada sapi-sapi di Sulawesi Utara. Selain Sulawesi, saat ini daerah endemis myasis sudah meluas ke Sumba, Lombok, Sumbawa, Papua, dan beberapa daerah di Jawa.

Kejadian Myasis di Lapangan
Kata myasis berasal dari bahasa Yunani, yaitu “myia” yang berarti lalat. Adapun defisini myasis adalah peradangan pada jaringan hewan atau manusia yang timbul akibat infestasi larva lalat. Masyarakat Indonesia lebih mengenal penyakit ini dengan nama belatungan.

Wardhana (2005) melaporkan bahwa kasus myasis banyak terjadi pada sapi dewasa, pedet, kambing, dan domba. Myasis pada sapi bisa ditemukan di berbagai lokasi seperti di mata, tanduk, leher, mulut/moncong sapi, telinga, vulva, ekor, pusar hewan yang baru lahir (umbilikus), kaki, dan teracak (telapak kaki).
Adapun proses terjadinya kasus ini didahului oleh adanya luka yang dibiarkan terbuka. Luka dapat diakibatkan oleh gesekan tubuh sapi dengan kandang, tersayat benda tajam, pasca partus (beranak), terputusnya tali pusar/umbilikus atau terkena gigitan caplak. Bau darah segar yang ada pada luka kemudian akan menarik perhatian lalat Chrysomya bezziana betina untuk bertelur pada luka tersebut. Telur ini mempunyai daya rekat yang kuat sehingga tidak mudah jatuh ke tanah oleh gerakan sapi. Dalam waktu 12-24 jam, telur lalat akan menetas dan tumbuh menjadi larva, kemudian bergerak masuk ke jaringan.


Aktivitas larva di dalam jaringan tubuh sapi mengakibatkan luka semakin membesar dan kerusakan jaringan kulit semakin parah. Lama-kelamaan kondisi ini menyebabkan bau yang menyengat dan mengundang lalat lain (lalat sekunder dan tertier) untuk hinggap, serta memicu timbulnya infeksi sekunder oleh bakteri atau parasit.
Sekalipun myiasis memiliki tingkat kematian rendah, namun tingkat kesakitannya cukup tinggi dan frekuensi kejadian (pervalensi)-nya terbilang sangat sering. Contohnya pernah dilaporkan di Sulawesi, di mana myasis menyerang hampir 20% dari total populasi sapi yang dipelihara peternak dan tingkat berulangnya kasus tersebut mencapai 40%.
Infestasi larva myasis tidak menimbulkan gejala klinis yang spesifik dan sangat bervariasi tergantung pada lokasi luka. Sapi yang terserangmyiasis akan merasa tidak nyaman, nafsu makannya turun, lemah, dan demam sehingga mengalami penurunan bobot badan dan produksi susu, kerusakan jaringan, infertilitas, serta anemia. Hal ini secara tidak langsung juga berdampak pada turunnya harga jual sapi di pasaran. Jikamyiasis menyerang organ vital (misalnya sampai masuk ke bagian otak) dan dibiarkan begitu saja dalam jangka waktu lama, maka myiasis pun akan menyebabkan kematian.
Penularan myasis terutama terjadi melalui lalat betina Chrysomya bezziana yang menginfestasi jaringan hidup. Pada lingkungan tropis dengan populasi ternak yang padat, lalat betina mampu terbang sekitar 10-20 km. Adapun pada lingkungan yang tandus dengan kepadatan populasi ternak yang rendah, lalat dapat terbang hingga 300 km. Sedangkan pada kondisi pegunungan, lalat akan terbang mengikuti alur perbukitan yang memiliki iklim lebih hangat dengan kelembaban yang tinggi. Di samping itu, lalat ini juga dapat terdistribusi melalui angin dan transportasi ternak.

Pengendalian Myasis
Kasus myasis sampai saat ini masih banyak menyerang sapi-sapi di Indonesia. Lalat penyebab myasis dapat berkembang baik dalam kondisi tropis dan kelembaban yang tinggi. Daerah yang memiliki banyak pepohonan, semak-semak, dan sungai merupakan daerah ideal untuk kelangsungan hidup lalat penyebab myasis. Beberapa faktor predisposisi serangan myasis antara lain musim hujan atau pancaroba, rendahnya tingkat higienitas dan sanitasi lingkungan, masuknya ternak sapi baru ke daerah endemis myasis, serta kurang pedulinya peternak terhadap perawatan luka.
Oleh karena itu, untuk mengendalikan kejadian myasis di lapangan, langkah-langkah yang harus diterapkan peternak di antaranya:
  • Mengendalikan populasi lalat di kandang
    Tingginya kasus myasis pada ternak sapi di Indonesia tidak dapat terlepas dari sistem budidaya peternakan rakyat yang kurang memperhatikan kebersihan kandang dan lingkungan. Contoh yang umumnya dijumpai adalah penumpukan kotoran sapi di samping kandang dan tidak dikelola dengan baik. Akibatnya tumpukan kotoran itu menjadi media subur bagi perkembangan lalat. Kondisi ini diperparah dengan model kandang yang sangat mendukung terjadinya luka pada permukaan tubuh sapi akibat kena paku, ataupun fungsi sapi sebagai ternak kerja yang juga sering menderita trauma pada permukaan tubuh.
    Untuk mengendalikan keberadaan lalat di kandang hendaknya peternak membersihkan kotoran sapi setiap hari dan mengumpulkannya pada tempat penampungan yang terpisah dan tertutup agar tidak kehujanan. Kotoran yang telah terkumpul bisa didiamkan (dikeringkan,red) selama maksimal 1 minggu untuk dikemudian dikarungkan.
    Jika lalat dewasa sudah banyak berkeliaran di kandang, peternak bisa membasminya dengan insektisida seperti Flytox dan Delatrin.Flytox merupakan sediaan insektisida yang efektif mengendalikan lalat pada area peternakan tanpa menimbulkan resistensi, bekerja cepat, dan daya kerjanya tahan lama. Demikian dengan Delatrin yang memiliki efek knock down (membunuh lalat seketika). Flytox diaplikasikan dengan cara tabur, sedangkan Delatrin diaplikasikan melalui semprot.
  • Pengawasan lalu lintas ternak
    Perlu kita ketahui bersama bahwa ternak sapi yang dikirim dari daerah endemis dapat menyebarkan penyakit myasis ke daerah yang belum pernah terserang. Hal ini terjadi karena larva Chrysomya bezziana pada sapi yang menderita myasis dapat terjatuh dan berkembang menjadi lalat dewasa. Jika di daerah itu terdapat sapi yang terluka, maka lalat akan hinggap pada luka dan menimbulkan kasus baru. Oleh karena itu, dalam hal pengawasan lalu lintas ternak ini, peternak dan dinas peternakan terkait sebaiknya bekerja sama mengendalikan lalu lintas ternak sapi, terutama sapi-sapi yang berasal dari daerah endemis.
  • Pengobatan luka secara dini
    Pada prinsipnya, myasis tidak akan muncul jika peternak melakukan penanganan secara dini pada luka yang dialami sapi. Namun apabila luka tidak diobati dalam waktu 1-2 minggu maka selain terjadi myasis, juga akan terjadi infeksi sekunder bakteri sehingga bisa muncul kematian. Untuk mengatasi luka, peternak dapat menyemprotkan DicodineDicodine merupakan obat semprot (spray) yang secara khusus diformulasikan untuk mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya myiasis. Sebelum diobati, bersihkan luka terlebih dahulumenggunakan air hangat atau larutan infus (NaCl 0,9%).


Penanganan Myasis
Selanjutnya untuk menangani sapi-sapi yang sudah terlanjur terserang myasis, peternak bisa melakukan beberapa tindakan berikut ini:
  • Keluarkan larva/belatung yang ada di permukaan luka menggunakan pinset.
  • Semprotkan luka myasis menggunakan Dicodine.
  • Jika kondisi luka myasis sudah disertai nanah, artinya sudah terjadi infeksi sekunder oleh bakteri, parasit atau mikroorganisme lain. Maka dari itu, setelah luka dibersihkan dan disemprot Dicodine, peternak perlu memberikan antibiotik (Medoxy-LA), obat anti inflamasi (anti radang) atau antiparasit yang bersifat sistemik (Wormectin Injeksi) pada sapi yang menderita myasis agar kondisinya tidak semakin parah.


Info Medion Edisi Agustus 2016
Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

0 komentar:

Apakah Yang dimaksud Dengan Desinfektan dan Desinfeksi


Permasalahan di dunia bisnis perunggasan memang sangat kompleks. Untuk memperoleh hasil produksi unggas yang tinggi, kita perlu mewaspadai banyak hal, salah satunya keberadaan bibit penyakit. Untuk mengurangi konsentrasi bibit penyakit tersebut, kita perlu menerapkan biosekuriti secara tepat. Salah satu aplikasi biosekuriti yang wajib kita terapkan yaitu desinfeksi. Bahan aktif yang digunakan dalam desinfeksi disebut dengan desinfektan.

Antiseptik dan Desinfektan
Sebelum membahas lebih jauh mengenai desinfektan, alangkah baiknya kita tahu lebih dulu tentang antiseptik dan desinfektan. Meskipun sama-sama digunakan untuk membunuh bibit penyakit, tetapi keduanya memiliki perbedaan. Antiseptik membunuh bibit penyakit pada jaringan hidup seperti permukaan kulit dan membran mukosa (selaput lendir). Sedangkan desinfektan membunuh bibit penyakit yang menempel pada benda mati, misalnya tempat pakan, tempat minum, lantai dan dinding kandang, alat transportasi, dan air minum.
Desinfektan dikatakan ideal jika mampu bekerja dengan cepat menginaktivasi bibit penyakit, berspektrum luas, dan aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, suhu maupun kelembaban. Desinfektan yang baik juga tidak memiliki sifat toksik pada hewan dan manusia, tidak korosif, bersifat biodegradable (bisa terurai dan tidak meninggalkan residu), memiliki kemampuan menghilangkan bau yang kurang sedap, tidak meninggalkan noda, dan mudah digunakan (Butcher dan Ulaeto, 2010).

Golongan Desinfektan
Beberapa golongan desinfektan yang sering digunakan di peternakan antara lain:
  • Alkohol
    Desinfektan turunan alkohol, seperti etanol dan isopropanol, memiliki sifat non-korosif tapi berefek kaustik (mengiritasi, seperti terbakar).
  • Aldehid
    Turunan aldehid seperti formaldehid, paraformaldehid, dan glutaraldehid bekerja mendenaturasi protein sel bibit penyakit, memiliki spektrum luas, bersifat stabil, persisten, biodegradable, dan cocok untuk desinfeksi beberapa material peralatan. Namun senyawa ini mudah menimbulkan resistensi, berpotensi sebagai karsinogen, dan bisa mengiritasi selaput lendir (Larson, 2013).
  • Oxidizing Agent
    Senyawa pengoksidasi (oxidizing agent) yang umum digunakan sebagai desinfektan adalah hidrogen peroksida, iodine dan Chloramine-T. Mekanisme kerja senyawa ini ialah mengganggu struktur dan proses sintesis protein serta asam nukleat. Desinfektan golongan ini efektif membunuh bakteri, virus, dan jamur, namun memiliki sifat korosif terhadap logam.
  • Fenol
    Senyawa turunan fenol (misal kresol) memiliki aktivitas antimikroba dengan merusak lapisan lemak (lipid) pada membran plasma bibit penyakit
  • Ammonium Quartener (QUATS)
    Turunan QUATS seperti benzalkonium chloride (BKC), benzetonium chloridesetrimid, dan domifen bromida memiliki efek bakterisidal dan bakteriostatik terhadap bakteri Gram (+) maupun (-), jamur serta protozoa. Tetapi turunan ini tidak aktif terhadap bakteri pembentuk spora dan virus tidak beramplop. Keuntungan penggunaan QUATS: toksisitas rendah, kelarutan dalam air besar, stabil dalam larutan air, tidak berwarna dan non-korosif terhadap logam.


Penggunaan Desinfektan
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan desinfektan, yaitu:
  • Jenis bibit penyakit
    Tiap golongan desinfektan memiliki target mikroorganisme yang berbeda, oleh karenanya pemilihan desinfektan harus tepat.


  • Sifat kimia dan formulasi
    Kombinasi dengan surfaktan sangat dianjurkan. Surfaktan akan membantu menurunkan tegangan permukaan sel bibit penyakit, sehingga penetrasi desinfektan terhadap bibit penyakit meningkat dan daya bunuhnya lebih baik.
  • Dosis pemakaian
    Dosis desinfektan hendaknya disesuaikan dengan aturan pakai yang tercantum pada label kemasan produk. Khusus untuk desinfeksi kandang, kebutuhan desinfektan tiap m2 adalah 300 ml.
    Contoh perhitungan penggunaan desinfektan :
    Kandang memiliki panjang 120 meter dengan lebar 10 meter.
    Luas kandang = 120 m x 10m = 1200 m2
    Luas permukaan kandang yang akan disemprot = 2,5 x 1200 m2 = 3000 m2
    Kandang akan disemprot menggunakan Medisep dengan dosis 15 ml/10 liter air. Maka jumlah desinfektan yang diperlukan :
    = 3000 m2 x 300 ml/m2 x 15 ml/10000ml
    = 1350 ml atau 1,35 liter
    Jadi, kebutuhan Medisep untuk semprot kandang seluas 1200 m2 adalah 1,35 liter
  • Waktu kontak
    Sesaat setelah diaplikasikan, desinfektan mulai mengalami degradasi sehingga efektivitasnya berangsur menurun. Maka semakin singkat waktu kontak desinfektan membasmi bibit penyakit, semakin efisien. Desinfektan golongan oxidizing agent dan QUATS diketahui memiliki waktu kontak relatif singkat (10 – 30 menit) dibandingkan fenol.
  • Material organik
    Materi organik, seperti sisa feses, darah dan lendir dapat menurunkan efektivitas desinfektan karena akan menghalangi kontak antara desinfektan dengan bibit penyakit. Di sinilah pentingnya melakukan pembersihan kandang secara optimal dengan menghilangkan semua bahan organik yang ada sebelum desinfeksi. Sikat semua bagian kandang meliputi sela-sela dinding atau lantai kandang, kemudian semprot dengan air dan keringkan.
  • Suhu
    Desinfektan golongan oxidizing agent bisa menguap lebih cepat pada suhu tinggi sehingga efektivitasnya akan cepat menurun.
  • pH
    Desinfektan bekerja optimal pada pH tertentu. Misalnya desinfektan golongan oxidizing agent bekerja optimal pada pH asam hingga netral (4 – 7), sedangkan desinfektan golongan QUATS dan aldehid pada pH basa hingga netral. Maka sebaiknya menggunakan air ber-pH netral untuk melarutkan desinfektan sehingga semua golongan desinfektan bisa bekerja optimal.
  • Kesadahan pelarut
    Tingkat kesadahan pelarut (air) sebanding dengan kandungan ion Ca2+ dan Mg2+ dalam air. Pelarutan desinfektan pada air dengan kesadahan tinggi menurunkan potensi desinfektan, terutama desinfektan golongan QUATS dan oxidizing agent. Untuk memastikan tingkat kesadahan air, sebaiknya lakukan pengujian di Medilab (Medion laboratorium).


Salam.


Info Medion Edisi Maret 2015
Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

0 komentar:

Cara Mendiagnosa Penyakit Pada Unggas dengan Tepat

Pertanyaan:

Ayam saya sakit kemudian dilakukan diagnosa oleh 3 techical service (TS) dari perusahaan yang berbeda dengan hasil diagnosa yang tidak sama. Ada yang menyebutkan ayam terkena penyakit ND kemudian disarankan untuk revaksinasi ND, ada yang menyebutkan ayam terkena IB dan disarankan revaksinasi IB, sedangkan TS terakhir menyebutkan ayam terkena low pathogenic avian influenza (LPAI). Kemudian saya mengambil keputusan untuk melakukan uji titer, namun hasil uji titer tersebut keluar 2-3 minggu kemudian. Produksi telur telah mengalami penurunan dari 87% menjadi 45% dan kerabang telur berwarna putih. Langkah apa yang harus dilakukan untuk pengobatan ayam tersebut sambil menunggu hasil titer ?

Jawab :
Jenis penyakit yang menyerang ayam bermacam-macam, dengan gejala klinis dan patologi anatomi yang hampir sama. Oleh karena itu bukan suatu keniscayaan bisa terjadi diagnosa penyakit yang berbeda, seperti kasus yang dialami tersebut.
Ayam petelur produksi yang mengalami gejala klinis berupa penurunan produksi telur bisa disebabkan karena serangan ND, AI, IB atau EDS. Untuk memastikan diagnosa penyakit tersebut dapat dianalisis dari anamnesa (keterangan peternak), gejala klinis dan pengamatan perubahan anatomi tubuh ayam dengan bedah bangkai. Pemeriksaan di laboratorium, salah satunya dengan uji titer antibodi, juga menjadi bagian dari upaya pendiagnosaan penyakit, terlebih lagi saat penyakit yang menyerang memiliki kemiripan gejala klinis maupun pathologi anatomi. Hanya saja pengujian di laboratorium ini membutuhkan.
Sambil menunggu hasil pemeriksaan titer antibodi, treatment yang dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran dan menekan keparahan penyakit yaitu:
  • Culling atau afkir ayam yang sakitnya sangat parah
  • Semprot kandang dengan Antisep atau Neo Antisep sehari sekali dan atau berikan Antisep (3 ml tiap 2 liter air minum) atau Neo Antisep(3 ml tiap 7,5 liter air minum) selama 3 hari
  • Bersihkan tempat ransum dan air minum secara rutin, yaitu 2 kali sehari. Rendam peralatan tersebut dengan Medisep (15 ml tiap 10 liter air) selama kurang lebih 30 menit
  • Cek kualitas ransum dan kontrol tingkat konsumsi ransum
  • Berikan multivitamin seperti Strong n Fit, Fortevit dan Aminovit. Bisa juga diberikan multivitamin plus elektrolit, seperti Vita Stress atauVita Strong untuk meningkatkan stamina tubuh ayam
  • Berikan antibiotik berspektrum luas seperti Proxan C, Coliquin atau Ampicol (pilih salah satu) untuk mencegah adanya infeksi sekunder oleh bakteri. Hindari penggunaaan antibiotik dari golongan sulfonamida dan aminoglikosida karena dapat memperparah kondisi ginjal pada ayam yang terserang penyakit IB
  • Bila memungkinkan dan diperlukan dapat dilakukan diagnosa dengan uji PCR (polymerase chain reaction) ke laboratorium Dinas Peternakan, Balai Penelitian maupun Fakultas Kedokteran Hewan yang terdekat dengan lokasi peternakan
Sebagai tambahan informasi, saat ini Medion telah menyediakan jasa uji titer antibodi, yaitu HI test untuk pengujian titer antibodi ND, AI maupun EDS. ELISA juga menjadi salah satu uji yang tersedia di laboratorium Medion (MediLab), yang digunakan untuk pengujian titer antibodi IB. Waktu pengujian pun berkisar 3-4 hari tergantung dari jumlah sampelnya. Hasil uji laboratorium dari MediLab akan dilengkapi dengan interpretasi hasil uji sehingga dapat mempermudah peternak memahami dan mengaplikasikan tindak-an yang sesuai


Info Medion Edisi November 2010
Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).


0 komentar:

Cara membuat kuning telur berwarna lebih tua (oranye)



Pertanyaan
Saya beternak itik petelur sekaligus memproduksi telur asin. Jika saya ingin membuat kuning telur berwarna lebih tua (oranye) dikasih apa? Karena konsumen lebih suka warna kuning telurnya lebih tua, sementara kuning telur itik saya warnanya pucat.



Jawab:
Yth. Ibu Suhartatik, terima kasih atas pertanyaannya. Sebuah senyawa atau bahan kimia dalam kuning telur yang menyebabkan kuning telur tersebut terlihat berwarna kuning atau jingga adalah karoten atau disebut juga provitamin A. Di dalamnya terdapat pigmen warna xantofil.Semakin tinggi kandungan karoten/xantofil akan menyebabkan warna kuning telur semakin tua.
Di peternakan, kuning telur memang memiliki warna yang bervariasi mulai dari kuning pucat sampai dengan jingga tua. Untuk mengukur kualitas warna kuning telur dapat dilakukan secara visual yaitu mencocokkan warna kuning telur dengan kipas warna (yolk colour fan/yolk color chart), kisaran skor 1 sampai 15, dari warna pucat sampai pekat (Gambar A). Menurut Amrullah (2003), warna kuning telur yang bagus adalah yang memiliki skor minimal 10.


Pada kasus yang Ibu alami, kuning telur berwarna pucat kemungkinan berada pada skor 1-5. Pucatnya kuning telur dapat disebabkan oleh kurangnya asupan bahan pakan yang mengandung xantofil, atau bahan pakan yang diberikan sudah disimpan terlalu lama sehingga kandunganxantofil-nya berkurang. Maka dari itu, untuk mendapatkan warna kuning telur yang lebih tua dan disukai oleh konsumen, diperlukan tambahan pigmen xantofil. Hal ini karena ternak unggas (termasuk itik) tidak dapat menyintesis pigmen di dalam tubuhnya.
Ada 2 macam pigmen xantofil yang dapat Ibu gunakan, yaitu pigmen xantofil murni (pure) produksi pabrik dan pigmen xantofil alami. Pigmen murni yang biasa dipakai oleh peternakan komersial besar bukanlah feed additive yang murah sehingga sangat tidak efisien jika diterapkan untuk peternakan itik skala menengah ke bawah. Untuk peternakan itik yang Ibu jalankan, kami menyarankan untuk memberikan bahan baku pakan sumber pigmen xantofil alami.
Bahan pakan yang banyak mengandung pigmen xantofil di antaranya jagung, kacang tanah, kedelai, kunyit, limbah udang, dan daging keong mas. Dari semua bahan tersebut, yang umum diberikan untuk itik adalah jagung dan limbah udang. Porsi penggunaan jagung bisa sekitar 50-55% dari total berat pakan dan limbah udang sekitar 35-45%. Pencampuran jagung pada formulasi pakan itik selain bertujuan sebagai sumber energi juga merupakan sumber pigmen xantofil yang baik untuk pembentukan warna kuning telur. Sedangkan limbah udang juga bisa menjadi salah satu bahan pakan sumber protein untuk meningkatkan jumlah produksi telur itik.

Limbah udang di sini umumnya berupa kepala dan kulit udang. Untuk proses pembuatan pakan limbah udang, pertama rebus kepala dan kulit kepala udang. Setelah itu keringkan, lalu digiling menjadi tepung.


Info Medion Edisi September 2016
Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

0 komentar:

Berat Telur ayam Ayam petelur yang normal


pertanyaan
Ayam petelur saya jumlah produksi hariannya normal, hanya saja sekitar 20% dari total telur yang dihasilkan ukurannya lebih kecil dan beratnya kurang dari standar. Memang telur kecil banyak peminatnya, hanya saja saya agak rugi karena telur dijual berdasarkan berat per kilo. Bagaimana caranya agar berat telur ayam saya kembali masuk standar?


Jawab:

Yth. Bapak Eko, terima kasih atas pertanyaannya. Telur ayam layer yang normal biasanya memiliki berat antara 52-65 gram. Tidak sesuainya ukuran dan berat telur dibanding standar bisa disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu:
  • Berat badan ayam
    Berat badan ayam berkorelasi positif dengan ukuran dan berat telur. Ketika masuk masa produksi (umur 18 minggu), berat badan ayam hendaknya sudah mencapai 1,35-1,65 kg (standar 1,5 kg). Namun jika beratnya masih di bawah standar, maka ayam tersebut akan menghasilkan telur dengan ukuran dan berat lebih kecil. Keadaan ini akan berlangsung secara terus-menerus selama ayam berproduksi.
  • Tingkat kematangan seksual
    Faktor ini secara tidak langsung juga berhubungan dengan berat badan. Ayam yang mengalami kematangan seksual (dewasa kelamin) terlalu dini (belum cukup umur), biasanya berat badannya masih rendah (di bawah 1,5 kg). Dengan demikian dewasa kelamin dini juga bisa menyebabkan ayam memproduksi telur dengan ukuran dan berat lebih kecil.
  • Feed intake dan nutrisi pakan
    Ukuran dan berat telur sangat besar dipengaruhi oleh jumlah feed intake (konsumsi) dan kandungan nutrisi pakan, seperti protein, asam amino (methionine dan lysine), energi, dan lemak. Jika nafsu makan ayam menurun atau kualitas pakan sedang buruk, maka kebutuhan nutrisi ayam akan tidak terpenuhi. Dampaknya berat telur akan berkurang dan ukurannya menjadi lebih kecil. Bahkan jika hal tersebut terjadi pada ayam petelur di umur < 40 minggu, maka bisa berakibat juga pada penurunan produksi telur harian.
Selanjutnya untuk mengembalikan berat telur ke ukuran standar, kita harus menganalisis apa penyebabnya. Tindakan sementara yang bisa dilakukan antara lain:
  • Lakukan pengamatan untuk mengetahui ayam mana saja yang berat telurnya kecil-kecil, kemudian dipisahkan dan ditimbang. Jika beratnya kurang dari standar, maka bisa diberi perlakukan khusus, yaitu diberi pakan dengan jumlah lebih banyak atau frekuensi makannya ditambah untuk mengejar ketertinggalan berat badan.
  • Jika memungkinkan, lakukan uji kualitas pakan di laboratorium (Medilab) untuk mengetahui kandungan nutrisi pakan ayam terpenuhi.
  • Ukur feed intake harian. Jika berat telur turun akibat nafsu makan ayam menurun, maka evaluasi apa saja penyebabnya. Bisa karena ayam terserang penyakit atau mengalami stres.
  • Berikan suplementasi multivitamin dan premiks yang akan membantu memperbaiki produksi dan kualitas telur seperti Top Mix,MixPlusAminovit dan Egg Stimulant.


Info Medion Edisi September 2016
Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

0 komentar:

INFO

loading...