info terkini

loading...

PENYAKIT-PENYAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN PAKAN PADA TERNAK RUMINANSIA




3. ACIDOSIS PADA SAPI PERAH
Peternak tradisional biasanya memelihara 3 – 10 ekor. Pakannya mengandalkan hijauan dan sedikit pakan penguat (konsentrat). Ada yang memanfaatkan limbah ampas tahu, kulit ari tempe dll.

Ampas tahu bisa meningkatkan produksi susu dengan cepat. Umumnya peternak memberikan ampas tahu basah 0,5 – 1 karung/ekor/hari dengan harga Rp 10.000 – Rp. 12.000,-/karung . Produksi menunjukkan kenaikan 3 – 5 liter / ekor / hari. Ampas tahu adalah pakan alternative, kandungan bahan kering 10-20% dan sebagian besar > 80% air, memiliki protein kasar tinggi (21%), minim energy (TDN), dan minim mikro mineral. Sapi perah yang makan ampas tahu terlihat kenyang, tidak lama volume rumen akan berkurang cepat. Ampas tahu dalam jumlah banyak tanpa diimbangi hijauan dan konsentrat menimbulkan ACIDOSIS. Terjadi karena konsumsi biji-bijian/konsentrat karbohidrat banyak terfermentasi dengan cepat tanpa diimbangi serat atau hijauan yang cukup sehingga derajat keasaman (pH) rumen menjadi rendah (asam <6.0 pH) dan mengurangi populasi mikrobia dalam rumen.
Gejalanya indigesti simple atau yang cepat dan fatal.
Acidosis akut (cepat), pH <5.0 :
> Ruminitis => Deficiency Calcium;
> Acidosis Metabolisme => Tidak nafsu makan / Anorexia;
> Pincang (lameness) => Polio Encephalo Myelitis (kekurangan Vit B1);
> Abses hati/Liver abscess => Diare disertai dehydrasi;
> Pneumonia => Keracunan Endotoxin.

Sapi terlihat kesakitan pada abdomen dan tidak ada sama sekali aktivitas rumen, sapi tidak mau makan. Awal gejala ditandai diare, biasanya sapi akan makan kembali setelah 3-4 hari. Sapi yang sehat akan makan normal, tonus rumen sempurna, feses tidak encer. Apabila konsumsi konsentrat/ampas tahu berlebih, beberapa akan selalu berdiri dan berhenti makan, berhenti minum, pernafasan cepat dan dangkal, denyut jantung meningkat. Diare encer dan profus, kotoran lunak berlendir, warna coklat muda kekuningan dan sering dalam faeces yang dikeluarkan banyak sisa bahan pakan yang tidak tercena sempurna.
Kejadian acidosis ringan dengan level dehidrasi 4 - 6%, dan 12% pada acidosis berat. Pada akut acidosis, sapi akan mati sebelum 24 jam.
Acidosis Sub Akut, pH 5.0 – 5.5 :
> Konsumsi konsentrat meningkat => Pincang / Lameness;
> Turunnya asupan bahan kering (feed intake) => Abses hati;
> Turunnya konsumsi serat => Diare.

METABOLISME KARBOHIDRAT DALAM RUMEN
Karbohidrat 70 – 80 % nutrisi (bahan kering) disamping protein, lemak, dan mineral. Karbohidrat adalah sumber energi dan men-support fungsi rumen untuk pertumbuhan mikrobial.
Terdapat 2 jenis karbohidrat :
> bahan terlarut (gula dan pati);
> dinding sel (cellulose, hemicellulose, lignin dan pectin).
Rumen availability dan digestibility pada dinding sel tergantung pertumbuhan dan umur panen hijauan (maturity forages), sumber karbohydrat (pati atau cellulose) dan prosesing hijauan (grinding biji-bijian atau chopper hijauan ). Peternakan sapi perah dan ahli nutrisi harus menentukan sumber energi yang tepat dan jumlah pati yang akan difermentasikan dalam rumen sebagai dasar pH rumen, sumber hijauan, level non-fiber carbohydrate, asupan bahan kering (dry matter intake), dan harga konsentrat/kg yang dibuat.

Gula, pati dan serat dicerna oleh mikrobia rumen mengubah karbohidrat menjadi Volatyl Fatty Acid (VFA) sebagai sumber energi. Acetat adalah VFA dominan pada sapi perah memiliki dua karbon 55-70%. VFA berupa acetat pada pencernaan serat (fiber). Propionat atau propionic acid VFA dengan 3 karbon dihasilkan bakteri rumen dari pati dan gula. Propionat menjadi glukosa oleh hati untuk pembentukan laktosa susu bersama dengan asam amino dalam proses gluconeogenesis.
Level propionat bervariasi dari 15 – 30% dari total produksi VFA. Jenis VFA yang ke- 3 adalah butyrat yang berkisar 5 – 15% of the produksi VFA. Butyrat dimanfaatkan sebagi sumber energi dan pembentukan lemak susu. Jika dievaluasi maka perbandingan VFA ratio antara acetat dan propionat A : P ratio 2.4 : 1 (60 % acetat : 25% propionate ), hal ini menujukkan fermentasi rumen baik. Konsisi fermentasi di rumen di bawah normal apabila, ratio A : P adalah 2.2 : 1. Levels acetat tinggi mengindikasikan tingginya serat dan fermentasi carbohydrat rendah dalam ransum. Level propionat tinggi mengindikasikan kurangnya serat dalam ransum dan acidosis.
EFEK pH RUMEN ACID
Bakteri rumen pencerna serat tumbuh optimal pH 6.0 – 6.8, Bakteri rumen pencerna pati tumbuh optimal pada pH 5.5 – 6. Produksi susu tinggi sapi perah harus menjaga pH rumen mendekati 6.0 Populasi optimal kedua jenis bakteri sehingga menghasilkan VFA dan susu banyak .
Akibat tidak seimbangan ampas tahu, konsentrat dan hijauan :
Produksi susu akan meningkat dalam waktu 1 – 2 bulan, setelah itu sapi akan mengalami ketergantungan terhadap ampas tahu. Ketika produksi susu akan turun secara alami, pemberian ampas tahu hanya akan menambah cost produksi. Sapi yang terbiasa diberi ampas tahu kemudian dan dihentikan pemberiannya, maka produksi susu akan turun drastis dan akan susah mengalami kenaikan produksi.

Masalah ini muncul pada saat hari raya, ketika semua pabrik tahu tutup karena pekerja liburan lebaran.
Tanpa disadari pH rumen akan turun (acidosis) selama pemberian ampas tahu berlebih, sehingga sangat menyiksa sapi. Hal ini ditandai dengan kotoran yang sering terlihat lebih encer. Dalam jangka waktu lama akan terjadi acidosis metabolisme yang berakibat pada lepasnya fili-fili rumen dan mengganggu pembentukan Volatil Fatty Acid.
Efek buruk pada saluran reproduksi yaitu kondisi rahim yang terlalu asam menyebabkan sperma mati pada saat inseminasi. Asupan energi yang minim dari ampas tahu menyebabkan gangguan pada ovarium yaitu hipofungsi ovarium. Kasus yang umum terjadi adalah calving interval panjang ( >15 bulan ), meningkatnya kawin berulang, dan tingginya kasus dry open (sapi tidak segera bunting kembali padahal produksi susu sudah turun, Days In Milk > 210 hari).
1. Efek buruk bagi kesehatan adalah tingginya angka sapi ambruk karena kekurangan Calsium, luka akan susah sembuh karena sifat luka akan basah dan susah kering.

2. Kualitas susu akan tururn (Total Solid, Solid Non Fat, Fat, protein)
PENCEGAHAN ACIDOSIS
Keseimbangan asupan pati (starch), protein dan hijauan
Protein tinggi seperti bungkil kedelai (ampas tahu), sumber pati tinggi seperti singkong (gaplek dan onggok singkong) harus diimbangi dengan sumber serat seperti bungkil sawit atau dedak.
1. Total Mixed Ration (grain dicampur dengan hijauan complete feed);

2. Probiotik atau yeast dalam ransum merubah lactic acid menjadi propionic acid untuk menaikkan pH;
3. Jangan merubah ransum pakan secara mendadak karena akan mengubah pH secara cepat mengganggu pertumbuhan mikrobia rumen;
4. Pemberian pakan kontinyu dan konsisten;
5. Penambahan buffer pada ransum 0.25–1% sodium bicarbonate;
6. Cek konsistensi kotoran, nafsu makan dan perilaku umum sapi;
7. Serat dan hijauan merangsang produksi saliva, karena saliva sebagai buffer alami;
8. Ransum feedlot Ionophores mengurangi resiko acidosis dan mengurangi diarea seperti Salinomycin 15 mg/kg atau Monensin at 20–25 mg/kg total bahan kering ransum.
PENANGANAN ACIDOSIS
1. Hentikan pemberian konsentrat dan berikan hijauan kualitas bagus yang punya palatabilitas tinggi dalam beberapa hari, 3 – 4 hari;

2. Lakukan exercise secara rutin;
3. Kosongkan isi rumen kemudian tambahkan mikrobia dan therapy cairan untuk menumbuhkan kembali mikrobia serta mengembalikan kondisi dehidrasi;
4. Rumen <pH 5 sapi masih kondisi berdiri maka masukkan ke dalam rumen Magnesium Hydroxide dicampur dalam air hangat (dosis 500 g/450 kg berat badan);
5. Berikan 5% sodium bicarbonate Intra vena (I.V), 5 liter/450 kg berat badan dan larutan elektrolit seimbang sampai terjadi urinasi/kencing.

0 komentar:

INFO

loading...