• Boleh dilirik tak boleh tertarik

  • lautan kau seberangi, gunung kau daki, mesjid kau lewati

  • kebersihan sebagian dari iman

  • jangan pernah tinggalkan akal mu, jika kamu ingin mendahulukan perasaan



Cara Mengobati Penyakit Ayam

0 komentar

Berbagai macam obat sudah lazim digunakan dalam dunia perunggasan guna mengatasi penyakit yang menyerang ayam. Jenis obat yang umum digunakan antara lain antibiotik (antibakterial), anthelmintik (obat cacing) dan antiprotozoa. Merk yang beredar pun beragam.
Yang sering menjadi masalah ialah masih awamnya beberapa peternak tentang zat aktif obat. Di lapangan seringkali praktek pengobatan kurang tepat. Contohnya dosis obat berlebih atau kurang, pemberiannya tidak merata, atau lama pemberian obat tidak sesuai dengan aturan pakai. Efeknya, penyakit tidak kunjung sembuh dan produktivitas ayam terganggu. Efek lain terjadi resistensi antibiotik golongan tertentu. Lalu bagaimana penggunaan obat yang bijak dan tepat itu? Berikut akan kami bahas.

Antibiotik
Antibiotik merupakan senyawa yang dihasilkan oleh mikroorganisme (baik berasal dari alam, semisintetik atau sintetik) yang dapat membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri. Oleh karena itu, antibiotik diberikan untuk mengobati penyakit ayam yang disebabkan infeksi bakteri, seperti E. coli, Salmonella, Staphylococcus sp. Avibaterium paragallinarum, dan bakteri lainnya. Namun seiring berjalannya waktu, penggunaan antibiotik kini tidak hanya sebatas untuk mengobati ayam sakit saja, tapi juga mulai digunakan untuk mencegah penyakit bakterial atau yang biasa disebut dengan cleaning program, maupun sebagai growth promoter.
Ada berbagai macam golongan antibiotik. Contohnya 8 golongan yang zat aktifnya terkandung dalam berbagai produk Medion seperti tercantum pada tabel golongan antibiotik.

 Mengenai cara kerjanya, antibiotik yang telah masuk ke dalam tubuh (melalui oral/dimakan/diminum atau injeksi/suntikan, kemudian akan masuk ke dalam aliran darah (absorbsi), meninggalkan aliran darah dan masuk ke jaringan (distribusi). Setelah itu, obat mulai bekerja pada target jaringan (metabolisme), kemudian berkurang kadarnya, baik secara langsung atau akibat proses metabolisme (ekskresi). Sedangkan obat yang diberikan secara topikal atau dioleskan ke kulit akan langsung bekerja di organ target (jaringan kulit, red).

a) Pengelompokkan antibiotik
Antibiotik dikelompokkan berdasarkan 2 hal, yaitu mekanisme dan spektrum kerjanya. Berdasarkan mekanisme kerja, dikelompokkan menjadi:

Sedangkan pengelompokkan antibiotik berdasarkan spektrum kerjanya, yaitu:
  • Spektrum sempit Termasuk dalam spektrum sempit bila antibiotik tersebut digunakan untuk bakteri Gram (-) atau Gram (+) saja, seperti colistin yang hanya mampu membasmi bakteri Gram (-).

  • Spektrum luas
    Dikatakan berspektrum luas bila antibiotik dapat mengatasi bakteri Gram (+) dan Gram (-) bahkan Mycoplasma, seperti antibiotik golongan fluoroquinolon.

b) Hal-hal yang harus diperhatikan saat pemberian antibiotik
Saat diaplikasikan di lapangan, hal-hal yang harus diperhatikan terkait dengan pemberian antibiotik ialah:
  • Antibiotik yang termasuk dalam golongan aminoglikosida (Koleridin) dan golongan sulfonamide (Trimezyn-SCollimezyn) tidak boleh digunakan pada kondisi gangguan ginjal seperti pada kasus Gumboro dan IB, dimana terjadi kebengkakan pada ginjal sehingga akan memperberat kerja ginjal.

  • Antibiotik golongan sulfonamide jangan digunakan bersamaan dengan vitamin B atau asam amino. Oleh karena itu, bila ingin memberikan multivitamin yang memiliki kandungan vitamin B atau asam amino, sebaiknya setelah pengobatan antibiotik sulfonamide selesai dilakukan.
  • Antibiotik golongan fluoroquinolon (Neo MeditrilDoctril) dan tetracycline (Doxyvet), jika diberikan per oral sebaiknya jangan dicampur dengan Ca2+ (kalsium), Mg2+ (magnesium), dan Al3+(aluminium) karena dapat menurunkan penyerapan obat di saluran cerna. Contoh produk Medion yang memiliki kandungan Ca2+, Mg2+, Al3+ ialah Vita StressNeobro dan Aminovit. Jadi alternatifnya bila ingin menggunakan vitamin-vitamin tersebut sebaiknya diberikan pada malam hari.

c) Resistensi antibiotik
Resistensi antibiotik adalah sebuah kondisi meningkatnya ketahanan bakteri terhadap daya kerja antibiotik tertentu. Akibatnya, bakteri menjadi tidak sensitif dan dibutuhkan dosis antibiotikyang lebih besar untuk membasmi bakteri tersebut.
Resistensi antibiotik pertama terjadi akibat pemberian dosis yang tidak sesuai, pemilihan antibiotik yang tidak tepat dan pengobatan yang tidak tuntas. Penyebab kedua, karena antibiotik dari golongan yang sama digunakan secara terus-menerus. Dan penyebab ketiga berasal dari bakteri itu sendiri, misalnya akibat bakteri mengalami mutasi genetik, enzim maupun perubahan reseptor pada tubuh bakteri tersebut.
Solusi yang tepat untuk mengatasi resistensi ini ialah dengan mengombinasikan obat secara sinergis, serta yang terpenting yaitu melakukanrolling antibiotik. Yang dimaksud dengan rolling antibiotik adalah menggunakan atau memberikan antibiotik dari golongan berbeda setiap interval 3-4 kali periode pengobatan. Berikut contoh program rolling antibiotik berdasarkan penyakitnya:

Anthelmintik
Anthelmintik (obat cacing) merupakan senyawa yang berfungsi membasmi cacing pada unggas. Beberapa contoh zat aktif yang sering diberikan antara lain piperazine, niclosamide dan levamisole. Secara garis besar, cara kerja obat cacing ada dua. Pertama, mempengaruhi syaraf otot cacing yang menyebabkan cacing lumpuh sehingga dengan mudah dikeluarkan dari tubuh ternak. Kedua, mengganggu proses pembentukan energi sehingga cacing kehilangan energi dan akhirnya mati.
Pemilihan anthelmintik yang tepat berdasarkan:
  • Efektivitas tinggi
    Yaitu memiliki spektrum luas dan aktif untuk semua fase hidup cacing, termasuk cacing dalam jaringan maupun dalam saluran cerna.
  • Indeks terapi lebar
    Indeks terapi adalah range atau jarak antara dosis terapi dengan dosis toksik. Obat dengan indeks terapi yang lebar, jika dosis pemberiannya sedikit melebihi ketentuan, kemungkinannya menjadi toksik atau berbahaya bagi tubuh akan sangat kecil.
  • Spektrum kerja sesuai
    Bila yang teridentifikasi menyerang ayam adalah cacing pita dan cacing gilik, maka pilih anthelmintik spektrum luas agar mampu mengatasi kedua cacing tersebut.
  • Kemudahan dalam pemberian obat
  • Withdrawaltime (waktu henti obat agar unggas aman untuk dikonsumsi) yang pendek
  • Tidak mempunyai efek samping merugikan
    Contohnya, tidak berinteraksi dengan obat atau racun lain di lingkungan, maupun tidak bersifat toksik terhadap ternak muda.

Terkait aplikasi pemberian anthelmintik ini di lapangan, berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan:
  • Beberapa zat aktif anthelmintik ada yang tidak larut dalam air seperti Niclosamide dan Albendazole, sehingga pemberiannya dicampur melalui ransum. Pencampuran anthelmintik dan ransum sebaiknya dilakukan secara bertahap. 

  • Campur dahulu anthelmintik dengan sebagian kecil ransum dan aduk hingga homogen. 

  • Setelah itu tambahkan sedikit demi sedikit sisa ransum sambil diaduk hingga anthelmintik dan ransum tercampur secara homogen. 

  • Sebelum pemberian obat sebaiknya ayam puasa makan dahulu selama ± 2 jam agar anthelmintik yang diberikan terkonsumsi habis oleh ayam dan waktu kontak antara anthelmintik dengan cacing di dalam saluran cerna semakin lama sehingga pengobatan menjadi lebih efektif. 

  • Anthelmintik yang sudah dicampur ransum/air minum hendaknya juga habis dalam rentang waktu 2-4 jam.

  • Sesuaikan waktu pemberian obat cacing dengan siklus hidup dan tempat pemeliharaan ayam tersebut. 

  • Cacing gilik mempunyai siklus hidup selama 1-2 bulan, sementara cacing pita sekitar 1 bulan. Oleh karena itu, pemberian obat cacing sebaiknya diberikan pada ayam umur 1 bulan.

  • Pengulangan obat cacing untuk ayam yang dipelihara di kandang postal atau non slat disarankan dilakukan 1-2 bulan setelahnya, sedangkan bila ayam dipelihara pada kandang baterai/slat pengulangan bisa dilakukan 3 bulan kemudian karena ayam tidak kontak denganlitter.

  • Setelah periode pengulangan, bukan berarti obat cacing harus terus menerus diberikan pada bulan-bulan selanjutnya. Para ahli dan praktisi menyarankan sebaiknya dilakukan pemeriksaan feses secara rutin sehingga adanya telur cacing di dalam feses dapat terdeteksi sejak awal. Hal inilah yang menjadi dasar perlu tidaknya pemberian obat cacing.

Antiprotozoa
Penyakit yang cukup sering menyerang ayam dan disebabkan oleh protozoa ialah penyakit koksidiosis dan leucocytozoonosis (malaria like). Untuk mengatasinya, perlu diberikan antiprotozoa. Seperti halnya antibiotik dan antithelmintik, antiprotozoa pun beragam macam golongan dan zat aktifnya. Yang paling umum ialah golongan sulfonamide.
Baik koksidiosis maupun leucocytozoonosis bisa diatasi dengan pemberian sulfonamide. Meski demikian, khusus untuk kasus koksidosis,Eimeria sp. penyebabnya masih bisa diatasi dengan pemberian antiprotozoa golongan lain seperti thiamine antagonist dan toltrazuril.
Berikut penjelasan lebih detail mengenai antiprotozoa yang dimaksud:
Sulfonamide
Antiprotozoa yang masuk ke dalam golongan sulfonamide diantaranya sulfadiazine, sulfadimethylpirimidine, sulfaquinoxaline, sulfamonomethoxine, sulfadimethoxine, dsb. 

Khusus pada kasus koksidiosis, antiprotozoa golongan ini harus diberikan dengan sistem 3-2-3 (3 hari diberikan, 2 hari berhenti dan 3 hari diberikan lagi). Hal ini karena sulfonamide hanya bekerja memutus siklus hidupEimeria (penyebab koksidiosis, red) yaitu dengan mengganggu proses reproduksi aseksualnya saja.

Potensi obat sulfonamide akan meningkat 10 kali jika dikombinasikan dengan golongan diamino pyrimidine (trimetoprim, pyrimethamin). Contoh produk antiprotozoa produksi Medion antara lain Coxy dan Sulfamix (sulfonamide tunggal), AntikoksiDuokoTrimezyn danMaladex (sulfonamide kombinasi).


Thiamine antagonist
Salah satu antiprotozoa yang termasuk ke dalam golongan thiamine antagonist adalah amprolium. Jika dikombinasikan dengan sulfaquinoxaline dapat memperluas spektrum kerja dan meningkatkan potensi membasmi protozoa Eimeria di usus halus dan sekum. Mekanisme kerja dari amprolium ini sama dengan sulfonamide, yaitu mengganggu proses reproduksi aseksual Eimeria sp. Produk yang mengandung amprolium contohnya Therapy dan Koksidex.
Toltrazuril

  • Toltrazuril merupakan antiprotozoa golongan triazinetrione. Berbeda dengan antiprotozoa sulfonamide dan amprolium, toltrazuril bekerja efektif dengan cara mengganggu fungsi mitokondria, yaitu dengan menghambat aktivitas enzim pada rantai pernapasan sel sehingga akan menyebabkan kematian pada semua tahap perkembangan sel protozoa Eimeria sp. (reproduksi seksual maupun aseksual). Contoh produk terbaru Medion yang mengandung toltrazuril adalah Toltradex.

Pemilihan antiprotozoa di lapangan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi ayam. Contohnya pada suatu kasus di farm “A”, ayam pedaging didiagnosa terserang koksidiosis sekaligus Gumboro. Maka pemilihan antiprotozoa dari golongan sulfonamide untuk mengatasi koksidiosissangat tidak dianjurkan.
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa obat golongan sulfonamide sebaiknya tidak diberikan pada kondisi gangguan ginjal, sedangkan pada kasus ini selain terdiagnosa koksidiosis, ayam juga terserang Gumboro. Padahal kita tahu bahwa Gumboro biasa menyebabkan kebengkakan pada ginjal. Oleh karena itu, pada saat kasus demikian, sebaiknya pilih antiprotozoa lain seperti Toltradex atau Therapy yang relatif lebih aman pada ginjal.


Prinsip Pengobatan
Setelah kita mengetahui jenis-jenis obat yang biasa diberikan pada ayam, kita juga perlu tahu apa saja prinsip pengobatan yang harus kita patuhi. Prinsip pengobatan tersebut ialah:
1)  Obat sesuai dengan jenis penyakit yang menyerang
Setiap obat mempunyai efek yang berbeda dan spesifik terhadap setiap penyakit. Hal pertama yang perlu diingat ialah bahwa untuk menentukan obat yang sesuai, harus didukung dengan diagnosa yang tepat. Selanjutnya pilih jenis obat sesuai dengan karakteristik mikroorganisme yang menyerang.
Misalnya pada kasus CRD, tidak semua obat dapat digunakan untuk mengatasi serangan CRD. Contohnya pemberian Ampicol atau Amoxitin tidak dapat mengatasi serangan CRD. Hal ini disebabkan bakteri CRD, Mycoplasma gallisepticum tidak mempunyai dinding sel yang berperan sebagai reseptor zat aktif kedua antibiotik tersebut. Sebaliknya, obat yang cocok untuk mengobati penyakit CRD ialah doksisiklin yang mampu menghambat sintesis protein pada reseptor M. gallisepticum (ribosom 30S). Contoh produk Medion yang digunakan yaitu Doxyvet atau Doxytin.

2)  Obat mampu mencapai lokasi kerja atau organ sakit
Obat yang diberikan harus mampu mencapai target organ, lokasi kerja atau organ yang sakit sehingga obat bisa berkerja secara tepat dan optimal. Pemilihan rute pengobatan menjadi hal penting untuk memastikan obat dapat mencapai organ atau lokasi kerja yang diinginkan.
Untuk mengobati penyakit infeksi pernapasan yang parah dengan efek pengobatan yang segera, rute parenteral (suntikan atau injeksi) menjadi pilihan utama. Namun bila tidak tersedia sediaan parenteral, maka sediaan oral melalui cekok atau air minum dengan kandungan obat yang memiliki efek sistemik dapat menjadi alternatif pilihan. Salah satu contohnya obat dari golongan fluoroquinolon. Melalui pemilihan dan pengaplikasian rute pengobatan yang benar akan meminimalisasi kemungkinan obat rusak maupun tereliminasi dari tubuh ayam sebelum mencapai organ target.
3)  Obat tersedia dalam kadar yang cukup
Obat akan menghasilkan efek pengobatan yang optimal saat konsentrasi atau kadarnya di dalam tubuh ayam mencapai kadar Minimum Effective Concentration (MEC). Sebelum obat mencapai kadar MEC, obat tidak akan bekerja menghasilkan efek pengobatan. Kecepatan obat dapat mencapai kadar MEC dan memberikan efek pengobatan tergantung pada rute pemberian obatnya.
Obat yang diberikan secara injeksi/suntikan lebih cepat melewati juga batas MEC dibandingkan pemberian obat secara oral (lihat Grafik 1). Yang perlu diperhatikan lagi, kadar obat di dalam tubuh jangan sampai melampaui batas MTC (Minimum Toxic Concentration) atau kadar toksik minimal. Bila melewati batas tersebut, maka fungsi obat yang seharusnya memiliki efek mengobati malah memberikan efek racun atau toksik bagi tubuh. Oleh karena itu, dosis ditentukan berdasarkan therapeutic range, yang merupakan konsentrasi dimana obat berefek dalam batas yang aman (batas MEC) dan tidak toksik (di bawah MTC), jadi sangat penting untuk mengikuti dosis yang telah dianjurkan.



4)  Obat berada dalam waktu yang cukup
Secara alami, kadar obat di dalam tubuh akan berkurang dalam jangka waktu tertentu. Ada parameter penting yang berhubungan dengan kecepatan eliminasi obat, yaitu waktu paruh. Waktu paruh yang diberi simbol T1/2 merupakan waktu yang diperlukan tubuh untuk mengeliminasi obat sebanyak 50% dari kadar semula. Obat dengan T1/2 pendek akan berada di dalam tubuh lebih singkat dibanding dengan yang mempunyai T1/2 panjang.
Pada aplikasinya, obat dengan T1/2 pendek perlu diberikan dengan interval waktu lebih pendek, misalnya diberikan 2-3 kali sehari untuk mempertahankan kadar efektif di dalam darah. Duoko dan Erysuprim merupakan antibiotik dengan T1/2 yang panjang sedangkan antibiotik lainnya seperti DoxyvetAmoxitin memiliki T1/2 nya pendek.
Oleh karena itu, pemberian antibiotik sebaiknya diberikan dalam dosis terbagi, yaitu dalam sehari dua kali pagi-siang dan siang-sore. Berikut contoh perhitungan dan pembagian dosis antibiotik Amoxitin yang diberikan selama 5 hari berturut-turut.
Misalnya populasi ayam 1000 ekor dengan berat badan rata-rata ayam 1 kg. Maka kebutuhan Amoxitin per hari ialah 
Populasi x Berat Badan x Dosis Obat
= 1000 ekor x 1 kg x 0,1 gram tiap kg BB
= 100 gram/hari
Maka kebutuhan selama 5 hari pengobatan ialah 5 x 100 gram = 500 gram.
Amoxitin kemudian diberikan pagi-siang (jam 07.00-13.00) sebanyak 50 gram dilarutkan dalam air minum kebutuhan selama 6 jam, dan 50 gram berikutnya diberikan siang-sore (jam 13.00-19.00). Malam hari dapat diberikan air minum saja maupun ditambahkan dengan vitamin.

Perlu Dihindari
Saat ini program sanitasi/desinfeksi air di lapangan sudah umum dilakukan guna menekan cemaran mikroorganisme di dalamnya. Namun permasalahan muncul saat ada kejadian penyakit di peternakan yang mengharuskan kita memberikan obat lewat air minum.
Pemberian obat, terutama melalui air minum sebaiknya tidak dicampur dengan desinfektan. Hal ini karena pencampuran tersebut akan menurunkan efektivitas atau bahkan merusak obat. Contohnya ialah iodine (Antisep, Neo Antisep) yang merupakan oksidator kuat sehingga sangat tidak disarankan untuk melarutkan obat dan vitamin. Sedangkan golongan chloramine T (Desinsep) dapat digunakan untuk melarutkan obat, namun sebaiknya sebelum digunakan, hendaknya diendapkan terlebih dahulu selama 6-8 jam. Untuk desinfektan golongan quats (Medisep, Zaldes) bisa digunakan untuk melarutkan obat dan kecuali golongan sulfonamide, penggunaannya tidak perlu diendapkan terlebih dahulu.
Ada baiknya, untuk mengetahui perlu tidaknya dilakukan desinfeksi air minum, peternak perlu mengujikan kualitas air minum yang diberikan ke ayam melalui uji laboratorium. Dalam hal ini, Medion menyediakan fasilitas untuk pengujian kualitas air minum dengan parameter kualitas fisik/visual, kimia maupun biologi.
Teknik pengobatan bukan hanya satu-satunya faktor kesembuhan penyakit tapi perlu ditunjang pula dengan ketepatan diagnosa, manajemen pemeliharaan yang tepat dan biosecurity yang ketat. Oleh karena itu, bila cara pemberian obat yang baik sudah diterapkan namun penyakit tak kunjung sembuh, sebaiknya konsultasikan lebih lanjut dengan dokter hewan atau tenaga lapangan untuk memastikan penyebab ketidakberhasilan pengobatan. Karena pengobatan merupakan seni yang memerlukan pembelajaran, keterampilan maupun pengalaman. Semoga sukses!


Info Medion Edisi November 2013
 Artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Read More »

PROGRAM VAKSINASI DAN PENCEGAHAN PULLET VERSI KOMPLIT, SAMPAI UMUR 21 MINGGU.

0 komentar

 

INGAT, HANYA VAKSIN YANG BISA MEMBUAT AYAM KEBAL TERHADAP PENYAKIT. ITU PUN TIDAK ADA YANG BISA MENJAMIN 100% KEBAL.

KALAU ADA KLAIM SUATU PRODUK BISA MEMBUAT AYAM KEBAL TERHADAP PENYAKIT TANPA VAKSINASI, PATUT DIPERTANYAKAN INTEGRITAS YANG MEMBUAT KLAIM. ITU NAMANYA PHP.

TAHAP 1 : program vaksinasi disusun dengan pertimbangan-pertimbangan seperti di foto nomor 1. Tidak asal menyusun dan tidak hanya katanya, katanya;

TAHAP 2 : Pertimbangan utama, pilih lah vaksin yang homolog dan sedapat mungkin dibuat dari isolat lokal sehingga bisa didapat tingkat proteksi yang optimum.
Catatan :


1. Menurut pengalaman saya selama hampir 30 tahun mengenal vaksin dari berbagai pabrikan, baik vaksin ex. impor mau pun buatan nasional, tidak ada 1 merk atau 1 supplier yang vaksinnya hebat semua dan bisa cocok semua dengan tantangan penyakit di sekitar farm kita serta bisa protektif semua;


2. Jadi peternak harus terampil dan jeli saat memilih vaksinnya. Seperti memilih istri yang paling cocok. Bila masih belum jelas atau kurang jelas, seyogyanya konsultasi dengan dokter hewan, ahli yang berpengalaman. Jangan semata-mata percaya dengan si penjualnya;

TAHAP 3 : Bila program vaksinasi dan pilihan vaksinnya sudah cocok, sudah protektif dan sudah sukses, jangan dirubah-rubah dengan adanya iming-iming harga murah dan/atau bonus-bonusan. Jadi lah seperti saya, tipe setia.

TAHAP 4 : Harga vaksin juga perlu dipertimbangkan walau pun bukan yang utama. Program vaksin seperti di foto nomor 2, sampai dengan umur 21 minggu, dengan vaksin pilihan saya saat ini, biayanya Rp 6.400,-/ekor. Total aplikasinya 20 kali vaksin dan pengobatan, upah borongan kerjanya Rp 40,-/ekor = Rp 800,-/ekor. Total biaya vaksin + ongkos aplikasi = Rp 7.200,-/ekor.



Read More »

PENGOBATAN CACING PADA AYAM

0 komentar

Penyakit cacing atau helminthiasis terkadang masih kurang diperhatikan karena tidak menimbulkan kematian yang mendadak dan tinggi sepertinya halnya penyakit viral (misal ND atau Al). Padahal penyakit ini mampu menimbulkan kerugian cukup besar. Waktu serangannya sulit diketahui, tiba-tiba saja produktifitas ayam menurun.

Cacing yang sering menyerang ayam secara umum ada dua, yaitu cacing gilik (Ascaridia sp., Heterakis sallinae, Syngamus trachea, Oxyspirura mansonii) dan cacing pita (Raillietinasp., Davainea sp.).

Cacing biasanya meng-“infestasi” (dalam dunia parasit, istilahnya infestasi, bukan infeksi) ke dalam tubuh ayam melalui beberapa cara, diantaranya melalui telur cacing atau larva cacing yang termakan oleh ayam, memakan induk semang antara (siput, kumbang, semut dll) yang mengandung telur atau larva cacing, telur atau larva cacing yang terbawa oleh petugas kandang melalui sepatu, pakaian kandangnya atau terbawa terbang oleh induk semang antara. Selain itu juga bisa karena ransum atau air minum yang tercemar telur cacing.

Telur cacing yang keluar bersama feses berkembang menjadi stadium infektif kemudian termakan induk semang antara atau langsung masuk tubuh ayam yang kemudian akan menuju ke tempat yang disukainya (tembolok, usus, sekum atau organ lain) untuk berkembang sampai dewasa.

Pengendalian Cacingan
Pengendalian penyakit cacingan merupakan salah satu usaha untuk mendapatkan hasil peternakan yang optimal. Cara yang dilakukan agar peternakan terhindar dari penyakit cacingan adalah dengan dilakukannya pencegahan yaitu:


1. Pemberian obat cacing.
Pengobatan akan sia-sia jika penyakit cacingan sudah parah. Sebaiknya dilakukan pengobatan secara rutin untuk memotong siklus hidup cacing. Seperti cacing Nematoda dengan siklus hidup kurang lebih satu setengah bulan, maka diberikan pengobatan dua bulan sekali, begitu juga dengan Cestoda. Pemberian obat cacing pada ayam layer sebaiknya diberikan pada umur 8 minggu dan diulang sebelum ayam naik ke kandang baterai. Sedangkan pada ayam broiler jarang diberikan anthelmintika karena masa hidupnya pendek.


2. Melakukan sanitasi kandang dan peralatan peternakan meliputi kandang dibersihkan, dicuci dan disemprot dengan desinfektan serta memotong rumput di sekitar area peternakan.

3. Mengurangi kepadatan kandang, karena dapat memberi peluang yang tinggi bagi infestasi cacing.

4. Pemberian ransum dengan kandungan mineral dan protein yang cukup untuk menjaga daya tahan tubuh tetap baik.

5. Mencegah kandang becek, seperti menjaga “litter” tetap kering, tidak menggumpal dan tidak lembab.

6. Peternakan dikelola dengan baik seperti mengatur jumlah ayam dalam kandang tidak terlalu padat, ventilasi kandang cukup dan dilakukan sistem “all in all out”.

Obat Cacing (Anthelmintik)
Selain pencegahan juga harus dilakukan pengobatan pada peternakan ayam yang telah terserang cacingan. Pengobatan sebaiknya dilakukan secara serempak dalam satu kandang atau flok yang terserang cacingan dengan anthelmintika yang sesuai. Anthelmintika merupakan obat untuk menghilangkan atau mengeliminasi parasit cacing dari tubuh ayam (endo-parasit).

Obat cacing (anthelmintika) merupakan senyawa yang berfungsi membasmi cacing sehingga dikeluarkan dari saluran pencernaan, jaringan atau organ tempat cacing berada dalam tubuh hewan.

Secara garis besar, cara kerja obat cacing ada 2, yaitu :

1) mempengaruhi syaraf otot cacing, dan
2) mengganggu proses pembentukan energi.


Cara kerja yang pertama akan mengakibatkan cacing lumpuh sehingga dengan mudah dikeluarkan dari tubuh ternak bersama dengan feses. Sedangkan cara kerja kedua menyebabkan cacing kehilangan energi dan akhirnya mati.

Jenis Obat Cacing
Berdasarkan cara kerjanya, obat cacing dibedakan menjadi 5 kelompok yaitu :


1) Benzimidazol (albendazol, fenbendazol, flubendazol, thiabendazol);
2) Imidathiazol (levamisol) dan tetrahydropyrimidine (pyrantel);
3) Avermectin (ivermectin) dan milbemycin (moxidectin);
4) Salicylanilide (niclosamid) dan nitrophenol;
5) Diclorvos dan trichlorphon.

* Piperazin dikelompokkan tersendiri karena cara kerjanya berbeda.


Kriteria obat cacing ideal antara lain :

1) Efektif, yaitu berspektrum luas dan aktif untuk semua fase hidup cacing, termasuk cacing dalam jaringan maupun saluran cerna;
2) Aman, yaitu mempunyai indeks terapi yang lebar;

3) Tidak menimbulkan residu di jaringan dan atau withdrawal time (waktu henti obat agar unggas/ternak aman untuk dikonsumsi) yang pendek;

4) Tidak berinteraksi dengan obat atau racun lain di lingkungan;

5) Tidak toksik terhadap ternak yang masih muda;

6) Efisien, yaitu cukup satu kali pemberian untuk meminimalkan biaya dan stres penanganan ternak;

7) Murah.

Obat cacing yang benar-benar ideal mungkin sulit ditemukan. Keunggulan dan keterbatasan obat cacing yang banyak beredar di lapangan antara lain :

1. Piperazin

Piperazin merupakan obat cacing yang paling sering digunakan oleh peternak. Piperazin sangat efektif untuk mengatasi infeksi cacing gilik yang ada di saluran cerna seperti Ascaridia pada ayam, ruminansia (sapi, kerbau, domba, kambing), babi maupun kuda. Piperazin biasanya dikombinasikan dengan phenotiazine agar efektifitas-nya terhadap cacing sekum meningkat.

Kelarutan piperazin sangat baik dalam air sehingga dapat diberikan melalui air minum maupun dicampur dengan ransum. Keunggulan piperazin yaitu memiliki rentang keamanan yang luas. Namun, piperazin kurang efektif untuk membasmi Heterakis gallinae (cacing sekum), cacing cambuk dan cacing pita.


2. Phenotiazin

Phenotiazin sangat efektif mengatasi cacing sekum (Heterakis gallinae) dan Ascaridia sp. pada unggas, tetapi phenotiazin tidak efektif untuk membasmi cacing pita. Walaupun mekanisme kerja obat ini belum diketahui dengan pasti tetapi dari segi keamanan phenotiazin praktis tidak toksik untuk unggas.


3. Levamisol

Levamisol termasuk golongan Imidathiazole yang efektif membasmi cacing gilik dewasa hingga bentuk larvanya. Levamisol juga sangat efektif membasmi cacing gilik yang ada di jaringan dan organ tubuh (Syngamus trachea pada trakea, Oxyspirura mansonii pada mata) karena levamisol dengan cepat diserap dan didistribusikan ke jaringan atau organ. Saat kondisi sistem imun rendah, Levamisol dapat membantu meningkatkan sistem imun tubuh host (inang)-nya dengan cara meningkatkan aktifitas makrofag.


Dibandingkan dengan Benzimidazol, Levamisol mempunyai rentang keamanan yang lebih sempit. Walaupun demikian pada dosis terapi terbukti tidak menimbulkan efek samping terhadap produksi telur, fertilitas mau pun daya tetas.

4. Ivermectin

Ivermectin lebih banyak digunakan pada hewan besar atau hewan kesayangan karena obat ini termasuk obat yang mahal. Keunggulan ivermectin adalah selain efektif mengatasi infeksi cacing gilik juga efektif mengatasi ekto-parasit (kutu, tungau, caplak, larva serangga). Selain itu, Ivermectin mampu membasmi bentuk cacing yang belum dewasa.


5. Niclosamid

Niclosamid termasuk golongan Salicylanilida yang secara spesifik efektif untuk mengatasi infeksi cacing pita. Niclosamid diaplikasikan melalui ransum karena tidak larut air. Niclosamid tidak diserap dalam usus sehingga mempunyai batas keamanan yang luas. Hasil penelitian menunjukkan pemberian Niclosamid 40 kali dosis terapi pada sapi dan domba tidak bersifat toksik. Pada masa kini, sejak 2010, sudah ada preparat Niclosamide dalam sediaan cair (larut dalam air).


6. Albendazol

Albendazol termasuk golongan benzimidazol yang mempunyai kelarutan terbatas dalam air. Umumnya digunakan pada hewan besar dalam bentuk kaplet atau suspensi dengan cara dicekok. Albendazol efektif untuk mengatasi infeksi cacing gilik pada saluran pencernaan, cacing pita, cacing paru dewasa dan larvanya (Dictyocaulus) dan cacing dewasa Fascioia gigantica. Mekanisme kerjanya adalah mengganggu metabolisme energi dengan menjadi inhibitor fumarat reduktase. Ketidak-tersediaan energi menyebabkan cacing mati. Golongan Benzimidazol sebaiknya tidak digunakan saat masa kebuntingan awal.




Teknik Pengobatan
Teknik pengobatan harus dilakukan dengan tepat sehingga efektivitas pengobatan optimal.

1. Pemilihan obat yang tepat

Obat cacing dikatakan efektif jika mempunyai spektrum kerja terhadap cacing tersebut. Pemilihan obat cacing didasarkan pada hasil diagnosa jenis cacing yang menginfeksi. Spektrum kerja obat cacing dapat dilihat pada tabel.

Obat yang cocok untuk mengatasi cacing gilik di saluran cerna (Ascaridia galli, Heterakis gallinae, Capillaria sp.,) antara lain Piperazin, Levamisol, dan Phenotiazin, Ivermectin atau Benzimidazol/Albendazole. Guna mengatasi cacing gilik yang ada di jaringan atau organ lain (Syngamus trachea, Oxyspirura mansonii) berikan Levamisol. Sedangkan infeksi cacing pita (Raillietina sp., Davainea sp.) gunakan Niclosamid atau Albendazol.


2. Dosis tepat

Tidak seperti antibiotik, umumnya anthelmintik diberikan dengan dosis tunggal (satu kali pemberian) dan bukan dengan dosis terbagi. Jika obat yang seharusnya diberikan sebagai dosis tunggal, tetapi diberikan dalam dosis terbagi misalkan terbagi dalam waktu satu hari, maka dapat menyebabkan jumlah obat yang masuk ke dalam tubuh ayam menjadi tidak sesuai dengan yang diharapkan.


3. Cara pemberian tepat

Tepat dosis juga berkaitan dengan cara atau periode pemberian obat. Jika pemberiannya salah maka dosis pun menjadi tidak tepat. Pemberian obat dengan bentuk kapsul, kaplet atau injeksi tidak menjadi masalah karena bisa langsung dicekokkan atau disuntikkan dengan satu kali pemberian. Namun, jika dilakukan melalui air minum atau ransum dosis obat dan jumlah konsumsinya harus diperhatikan sehingga dosis yang masuk dalam tubuh ayam tepat.

Dosis pemberian obat sebaiknya sesuai dengan yang tertera dalam etiket atau leaflet. Dosis yang tertulis pada etiket dan leaflet obat cacing sebelumnya sudah dihitung berdasarkan berat badan yang kemudian dikonversikan dalam kebutuhan air minum atau ransum yang dikonsumsi dalam waktu 2 hingga 4 jam. Cara pencampuran obat ke dalam air minum atau ransum juga perlu diperhatikan. Obat cacing yang bersifat larut air (piperazin, levamisol) biasanya lebih direkomendasikan diberikan melalui air minum, walaupun tidak menutup kemungkinan bisa diberikan melalui ransum. Pastikan obat larut semua dalam air minum dan tidak ada serbuk obat yang tersisa.

Obat cacing yang tidak larut air (contohnya Niclosamid, Albendazol) diberikan melalui ransum. Pencampuran obat dan ransum sebaiknya dilakukan secara bertahap. Campur dahulu obat dengan sebagian kecil ransum, aduk hingga homogen dan kemudian tambahkan sedikit demi sedikit sisa ransum sambil diaduk hingga obat dan ransum tercampur secara homogen.


Beberapa etiket produk biasanya tertulis ayam dipuasakan terlebih dahulu. Hal itu tidak menjadi suatu keharusan. Tujuan dari puasa tersebut adalah agar obat yang diberikan terkonsumsi habis oleh ayam dan waktu kontak antara obat dengan cacing di dalam saluran cerna semakin lama sehingga pengobatan menjadi lebih efektif.

4. Pengulangan pemberian obat cacing

Pengobatan infeksi cacing memerlukan proses pengulangan. Pengulangan ini bertujuan membasmi cacing secara total karena secara umum obat cacing tidak bisa membasmi semua fase hidup cacing (telur, larva dan cacing dewasa).

Pengulangan tersebut disesuaikan dengan siklus hidup cacing dan kondisi kandang. Cacing gilik mempunyai siklus hidup 1-2 bulan sedangkan cacing pita sekitar 1 bulan sehingga pemberian obat cacing pertama kali disarankan saat berumur 1 bulan. Jika ayam dipelihara pada kandang postal, pemberian obat cacing perlu diulang setelah 1-2 bulan sedangkan jika dipelihara di kandang baterai, pengulangan 3 bulan kemudian karena ayam tidak kontak dengan litter.

Setelah periode pengulangan tersebut, bukan berarti obat cacing harus terus menerus diberikan pada bulan-bulan berikutnya. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan feses secara rutin sehingga adanya telur cacing dalam feses dapat terdeteksi sejak dini. Hal ini dapat dijadikan dasar perlu atau tidak pemberian obat cacing.


5. Kombinasi obat

Pemberian obat cacing kadang-kadang bersamaan dengan antibiotik jika ada infeksi sekunder oleh bakteri. Hal ini tidak masalah jika tidak ada interaksi yang merugikan (baik secara fisika-kimia maupun secara farmakologi) antara kedua bahan yang dikombinasikan. Jika kombinasi tersebut ternyata menimbulkan interaksi yang merugikan, pilih antibiotik lain atau antibiotik diberikan 1 hari setelah pemberian obat cacing.


Dari segi farmakologi, pemberian obat cacing bersamaan dengan vitamin umumnya tidak terjadi interaksi yang merugikan sehingga bisa dilakukan setiap saat. Pemberian obat cacing juga bisa bersamaan dengan vaksinasi. Pada dasarnya obat cacing tidak menimbulkan interaksi dengan vaksin terutama jika pemberian obat cacing diberikan melalui oral (air minum/ransum/cekok) dan vaksinnya diberikan melalui injeksi. Namun yang perlu diperhatikan ialah jika vaksin diberikan melalui air minum, maka jangan mencampurkan obat dan vaksin dalam air minum yang sama. Tujuannya untuk mencegah terganggunya stabilitas vaksin oleh obat yang ada dalam air minum tersebut.

6. Faktor lain yang perlu diperhatikan
Pengobatan cacing menyebabkan cacing dan telur cacing dalam jumlah besar akan dikeluarkan bersama feses. Jika lingkungan sekitar mendukung, maka telur tersebut akan berubah menjadi bentuk infektif sehingga dapat kembali menginfeksi ayam. 

Untuk itu, selama pengobatan sebaiknya memperhatikan meminimalkan kontak ayam dengan feses yang mengandung telur cacing atau ayam dipelihara dalam kandang panggung atau baterai. Bersihkan kandang dan cegah “litter” jangan lembab. Selain itu, basmi inang antara seperti semut, lalat dan siput dengan insektisida. Namun, jangan sampai insektisida mengenai ransum, air minum atau ternaknya.

7. Resistensi obat cacing
Resistensi tidak hanya terjadi pada mikrobia terhadap antibiotik saja, tetapi cacing juga bisa menjadi resisten terhadap anthelmintik. Hingga saat ini resistensi cacing yang pernah dilaporkan terjadi antara lain Oesophagostomum spp yang menginfeksi babi resisten terhadap Pyrantel dan Levamisol atau Cyathostomes pada kuda resisten terhadap Benzimidazol.

 Kasus resistensi tersebut kemungkinan besar karena penggunaan obat cacing yang terlalu sering dalam satu tahun (5-12 kali). Meskipun penelitian tentang resistensi cacing pada ayam belum ada, tetapi mulai saat ini kita harus melakukan pencegahan jangan sampai resistensi tersebut terjadi.



Resistensi cacing terhadap obat dapat ditekan dengan cara:

a. Perbaikan tata laksana pemeliharaan sehingga perkembangbiakan cacing dapat ditekan.


b. Lakukan pemeriksaan feses secara berkala sebagai acuan perlu tidaknya ayam diberikan obat cacing.

c. Berikan obat cacing sesuai dengan dosis yang direkomendasikan, jangan berlebih maupun kurang.

d. Rotasi atau penggantian jenis obat cacing yang digunakan setiap 1-2 tahun. Namun kendalanya jenis obat cacing dari golongan yang berbeda sangat terbatas. Contoh rotasi anthelmintik ialah piperazin dengan levamisol yang sama-sama efektif mengatasi infeksi cacing gilik.

e. Perhatikan kondisi lingkungan kandang terutama jika lantai lembab, mengingat bentuk telur dan larva cacing bisa saja masih berada di sekitar kandang.

f. Perlu pendataan jenis obat cacing yang digunakan selama masa pemeliharaan ayam dan memonitor efektifitas pengobatannya.


Meski penyakit cacingan tidak ganas namun perlu diwaspadai dan dikendalikan. Pengendalian tersebut dapat dilakukan dengan kombinasi antara pengobatan cacing secara rutin dan pencegahan dengan dilakukannya tatalaksana kandang dan lingkungan sekitar kandang dengan baik.

Semoga bermanfaat.


Read More »

budidaya jangkrik termudah dan pasti panen

0 komentar




1. Penyiapan Sarana dan Peralatan kandang jangkrik
Karena jangkrik biasa melakukan kegiatan diwaktu malam hari, maka kandang jangkrik jangan diletakkan dibawah sinar matahari, jadi letakkan ditempat yang teduh dan gelap. Untuk menjaga kondisi kandang yang mendekati habitatnya, maka dinding kandang diolesi dengan lumpur sawah dan diberikan daun-daun kering seperti daun pisang, daun timbul, daun sukun dan daun-daun lainnya untuk tempat persembunyian disamping untuk menghindari dari sifat kanibalisme dari jangkrik.

Dinding atas kandang bagian dalam sebaiknya dilapisi lakban keliling agar jangkrik tidak merayap naik sampai keluar kandang. Disalah satu sisi dinding kandang dibuat lubang yang ditutup kasa untuk memberikan sirkulasi udara yang baik dan untuk menjaga kelembapan kandang. Untuk ukuran kotak pemeliharaan jangkrik, tidak ada ukuran yang baku. Yang penting sesuai dengan kebutuhan untuk jumlah populasi jangkrik tiap kandang.

Kandang jangkrik biasanya berbentuk persegi panjang dengan ketinggian 30-50 cm, lebar 60-100 cm sedangkan panjangnya 120-200 cm. Kotak (kandang) dapat dibuat dari kayu dengan rangka kaso, namun untuk mengirit biaya, maka dinding kandang dapat dibuat dari triplek. Kandang biasanya dibuat bersusun, dan kandang paling bawah mempunyai minimal empat kaki penyangga.

Untuk menghindari gangguan binatang seperti semut, tikus, cecak dan serangga lainnya, maka keempat kaki kandang dialasi mangkuk yang berisi air, minyak tanah atau juga vaseline (gemuk) yang dilumurkan ditiap kaki penyangga.


 Contoh bila ingin membuat kandang jangkrik

2. Pembibitan jangkrik
Bibit jangkrik yang diperlukan untuk dibesarkan haruslah yang sehat, tidak sakit, tidak cacat (sungut atau kaki patah) dan umurnya sekitar 10-20 hari. Calon induk jangkrik yang baik adalah jangkrik-jangkrik yang berasal dari tangkapan alam bebas, karena biasanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Kalaupun induk betina tidak dapat dari hasil tangkapan alam bebas, maka induk dapat dibeli dari peternakan. Sedangkan induk jantan diusahakan dari alam bebas, karena lebih agresif.

Indukan Jangkrik

Adapun ciri-ciri indukan jangkrik , induk betina, dan induk jantan yang adalah sebagai berikut:
1.      Indukan betina jangkrik sungutnya (antena) masih panjang dan lengkap dengan kedua kaki belakangnya masih lengkap sehingga bisa melompat dengan tangkas, gesit dan kelihatan sehat. Badan dan bulu jangkrik berwarna hitam mengkilap. Sebaiknya pilihlah induk yang besar dangan memilih jangkrik yang mengeluarkan zat cair dari mulut dan duburnya apabila dipegang.

2.      Induk jantan Jangkrikselalu mengeluarkan suara mengerik dengan permukaan sayap atau punggung kasar dan bergelombang. Tidak mempunyai ovipositor di ekor Perawatan jangkrik yang sudah dikeluarkan dari kotak penetasan berumur 10 hari harus benar-benar diperhatikan dan dikontrol makanannya, karena pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga kalau makanannya kurang, maka anakan jangkrik akan menjadi kanibal memakan anakan yang lemah.

Selain itu perlu juga dikontrol kelembapan udara serta binatang pengganggu, yaitu, semut, tikus, cicak, kecoa dan laba-laba. Untuk mengurangi sifat kanibal dari jangkrik, maka makanan jangan sampai kurang. Makanan yang biasa diberikan antara lain ubi, singkong, sayuran dan dedaunan serta diberikan bergantian setiap hari.

Sampai saat ini pembiakan Jangkrik yang dikenal adalah dengan mengawinkan induk jantan dan induk betina, sedangkan untuk bertelur ada yang alami dan ada juga dengan cara caesar. Namun risiko dengan cara caesar induk betinanya besar kemungkinannya mati dan telur yang diperoleh tidak merata tuanya sehingga daya tetasnya rendah.

Induk dapat memproduksi telur yang daya tetasnya tinggi ± 80-90 % apabila diberikan makanan yang bergizi tinggi. Setiap peternak mempunyai ramuan-ramuan yang khusus diberikan pada induk jangkrik antara lain: bekatul jagung, ketan item, tepung ikan, kuning telur bebek, kalk dan kadang-kadang ditambah dengan vitamin.

Jangkrik biasanya meletakkan telurnya dipasir atau tanah. Jadi didalam kandang khusus peneluran disiapkan media pasir yang dimasukkan dipiring kecil. Perbandingan antara betina dan jantan 10 : 2, agar didapat telur yang daya tetasnya tinggi. Apabila jangkrik sudah selesai bertelur sekitar 5 hari, maka telur dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan induknya kemudian kandang bagiab dalam disemprot dengan larutan antibiotik (cotrymoxale).

Dalam satu kandang cukup dimasukkan 1-2 sendok teh telur dimana satu sendok teh telur diperkirakan berkisar antara 1.500-2.000 butir telur. Selama proses ini berlangsung warna telur akan berubah warna dari bening sampai kelihatan keruh. Kelembaban telur harus dijaga dengan menyemprot telur setiap hari dan telur harus dibulak-balik agar jangan sampai berjamur. Telur akan menetas merata sekitar 4-6 hari.

3. Pemeliharaan Jangkrik
Seperti telah dijelaskan diatas bahwa dalam pengelolaan peternakan jangkrik ini sanitasi merupakan masalah yang sangat penting. Untuk menghindari adanya zat-zat atau racun yang terdapat pada bahan kandang, maka sebelum jangkrik dimasukkan kedalam kandang, ada baiknya kandang dibersihkan terlebih dahulu dan diolesi lumpur sawah. Untuk mencegah gangguan hama, maka kandang diberi kaki dan setiap kaki masing-masing dimasukkan kedalam kaleng yang berisi air.



Perawatan jangkrik disamping kondisi kandang yang harus diusahakan sama dengan habitat aslinya, yaitu lembab dan gelap, maka yang tidak kalah pentingnya adalah gizi yang cukup agar tidak saling makan (kanibal).


4. Pemberian Pakan jangkrik


Pakan Untuk Jangkrik

Anakan umur 1-10 hari diberikan Voor (makanan ayam) yang dibuat darikacang kedelai, beras merah dan jagung kering yang dihaluskan. Setelah vase ini, anakan dapat mulai diberi pakan sayur-sayuran disamping jagung muda dan gambas. Sedangkan untuk jangkrik yang sedang dijodohkan, diberi pakan antara lain : sawi, wortel, jagung muda, kacang tanah, daun singkong serta ketimun karena kandungan airnya tinggi. Bahkan ada juga yang menambah pakan untuk ternak yang dijodohkan anatar lain : bekatul jagung, tepung ikan, ketan hitam, kuning telur bebek, kalk dan beberapa vitamin yang dihaluskan dan dicampur menjadi satu.

5. Pemeliharaan Kandang
Air dalam kaleng yang terdapat dikaki kandang, diganti setiap 2 hari sekali dan kelembapan kandang harus diperhatikan serta diusahakan agar bahaya jangan sampai masuk kedalam kandang.

Hama dan penyakit jangkrik
1.      Penyakit, Hama dan Penyebabnya Sampai sekarang belum ditemukan penyakit yang serius menyerang jangkrik. Biasanya penyakit itu timbul karena jamur yang menempel di daun. Sedangkan hama yang sering mengganggu jangkrik adalah semut atau serangga kecil, tikus, cicak, katak dan ular.

2.      Pencegahan Serangan Hama dan Penyakit Untuk menghindari infeksi oleh jamur, maka makanan dan daun tempat berlindung yang tercemar jamur harus dibuang. Hama pengganggu jangkrik dapat diatasi dengan membuat dengan membuat kaleng yang berisi air, minyak tanah atau mengoleskan gemuk pada kaki kandang.

3.      Pemberian Vaksinasi dan Obat Untuk saat ini karena hama dan penyakit dapat diatasi secara prefentif, maka penyakit jangkrik dapat ditekan seminimum mungkin. Jadi pemberian obat dan vaksinasi tidak diperlukan.

Cara Menetaskan Telur Dalam Budidaya Jangkrik
Setelah perkawinan terjadi, yang perlu diperhatikan dalam budidaya jangkrik yaitu menetaskan telur. Telur-telur hasil perkawinan jangkrik biasanya menetas setelah sekitar 7-10 hari sejak hari perkawinan. Pisahkan telur-telur jangkrik tersebut tidak lebih dari 5 hari sesudah sang induk bertelur.

Telur budidaya jangkrik


Pindahkan telur-telur tersebut ke kandang penetasan yang juga merupakan pembesaran anakan. Akan terjadi perubahan warna telur yang tadinya bening berubah menjadi keruh. Dalam waktu 4-6 hari telur akan menetas. Pada masa penetasan tersebut, jagalah kelembaban kandang dengan cara menggunakan penyemprotan air maupun menutup kandang menggunakan karung goni yang basah.

Pemberian Makan Pada Budidaya Jangkrik Harus Diperhatikan
Telur telah menetas namun bukan berarti tahapan budidaya jangkrik telah berakhir begitu saja. Anda harus tetap memperhatikan pemberian makan guna melanjutkan budidaya jangkrik hingga benar-benar panen.

Setelah telur-telur tersebut menetas, sekitar umur 1-10 hari anda dapat memberi makan jangkrik dengan pakan ayam atau kita kenal dengan voor, dari beras merah, jagung kering dan beras merah yang telah dihaluskan.

Sesudah lewat dari 10 hari, anda mulai dapat memberi makan jagung muda dan sayur-sayuran. Selanjutnya anda dapat menambahkan singkong, ubi atau mentimun.

Cara Panen yang Benar dalam Beternak Jangkrik
Setelah melalui tahapan-tahapan tersebut, kini tibalah saatnya untuk memanen hasil dari cara budidaya jangkrik sudah anda praktekkan. Output yang bisa anda dapatkan dari budidaya tersebut ada dua yaitu telur jangkrik dan jangkrik dewasa.

Telur jangkrik pada umumnya memiliki harga yang lebih mahal jika dijual jika dibandingkan dengan jangkriknya. Anda dapat menjual telur-telur hasil ternak tersebut kepada pembudidaya jangkrik pembesaran.

Ternak jangkrik dapat dipanen setelah berumur sekitar 30 hari sejak mulai menetasnya telur. Itulah yang dapat kami sampaikan sehingga dapat menjadi panduan anda dalam memulai cara budidaya jangkrik untuk pakan burung maupun lainnya.

Panen Jangkrik
Peternak jangkrik dapat memperoleh 2 (dua) hasil utama yang nilai ekonomisnya sama besar, yaitu: telur yang dapat dijual untuk peternak lainnya dan jangkrik dewasa untuk pakan burung dan ikan serta untuk tepung jangkrik.

Tinjauan ekonomi
Dengan modal awal Rp 1,4 juta, petani bisa memulai usaha beternak jangkrik. Modal awal tersebut digunakan untuk kandang, telur, pakan, dan biaya persiapan lainnya (Belum termasuk biaya pengangkutan dan pendampingan):

·         Kotak (20 buah) Rp 200.000
·         Telur 400 gr Rp 240.000
·         Pakan 120 kg Rp 900.000
·         Beban oven Rp 50.000
·         Biaya administrasi Rp 10.000
·         Total Rp 1.400.000

·         Penghitungan keuntungan per 80 kg jangkrik hasil panenan yang dijual Rp 30.000 per kilogram:
·         Penjualan 80 kg jangkrik Rp 2.400.000
·         Modal Rp 1.400.000
·         Biaya pengangkutan satu paket Rp 100.000
·         Keuntungan Rp 900.000

bagaimana apakah tips diatas bermanfaat..??? untuk saat ini peminat burung kicauan makin melonjak maka untuk kebutuhan pakan burung terutama jangkrik pasti ikut melonjak juga.. ini merupakan bisnis yang bagus untuk saat ini. sekian untuk Cara Beternak Jangkrik yang gampang dan tidak ribet

sumber
https://www.segalahobi.com/cara-beternak-jangkrik-yang-gampang-dan-tidak-ribet/
https://www.masbroo.com/tips-cara-budidaya-jangkrik.html


Read More »